BAB 7 Menulis Bagian Pendahuluan (part 1)

Daftar Isi

RuangJurnal.com – Kami melayani jasa pembuatan jurnal sinta untuk berbagai kebutuhan anda, seperti kenaikan pangkat, syarat kelulusan, dan masih banyak lagi. Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai menulis bagian pendahuluan.

BAB 7 Menulis Bagian Pendahuluan

A. Bagian Awal Artikel

Naskah artikel pada jurnal diawali dengan judul, nama penulis, identitas penulis, abstrak, dan kata kunci. Walaupun bagian ini diletakkan di awal artikel, tetapi biasanya para penulis membuatnya setelah isi artikel selesai. Bagian awal artikel secara spesifik masuk pada gaya selingkung setiap jurnal. Oleh karena itu, sebelum menulis pastikan gaya selingkung jurnal yang akan dituju telah dipahami oleh penulis. Pada umumnya bagian awal naskah/artikel terdiri dari: judul, nama penulis, identitas penulis, abstrak, dan kata kunci.
1. Judul
Judul naskah artikel merupakan identitas artikel yang pertama kali dilihat dan dibaca para pembaca. Judul artikel harus menarik, merangsang calon pembaca untuk penasaran dan mau membaca. Menarik di sini tentu menurut sasaran pembaca. Sasaran pembaca bagi jurnal ilmiah biasanya kaum intelektual yang terkait dengan kegiatan ilmiah. Ini artinya judul artikel yang menarik berbeda dengan judul sebuah film untuk hiburan.
Daya tarik atau kemenarikan (attractiveness) sebuah judul artikel bagi pembaca di antaranya terletak pada substansi. Jika substansi itu banyak dibutuhkan pembaca, tentu akan menarik banyak pembaca. Oleh karena itu, judul artikel perlu dirumuskan secara spesifik, jelas, ringkas sehingga memudahkan untuk dibaca.
Judul naskah artikel juga perlu informatif. Yang lebih penting lagi, judul harus menggambarkan substansi atau isi dari artikel tersebut. Dari membaca judul para pembaca bisa membayangkan apa isi artikel tersebut. Biasanya membuat judul menyertakan variabel atau peubah yang dibahas dalam naskah/artikel tersebut.
Pengalaman penulis dalam me-review berbagai naskah artikel pada jurnal menunjukkan bahwa rumusan judul disajikan beragam. Ada penulis yang mencantumkan judul lengkap, tergambar mulai dari metode penelitian, lokasi penelitian, lembaga yang diteliti, objek penelitian, dan aspek lainnya. Akibatnya rumusan judul menjadi panjang dan kurang menarik. Padahal judul yang baik adalah walaupun menggambarkan isi artikel, tetapi harus ringkas. Perhatikan contoh judul-judul naskah artikel di bawah ini.

a. Pengaruh Penggunaan Media Sosial dalam Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Inggris.
b. Penggunaan Media Sosial dalam Meningkatkan Kemampuan Berbahasa
c. Inggris di Kota Jakarta. Studi Kasus Penggunaan Media Sosial dalam Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Inggris.
d. Media Sosial dalam Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Inggris.

Jika dianalisis keempat rumusan judul di atas hakikatnya sama yaitu membahas dua variabel yaitu “Penggunaan Media Sosial” sebagai variabel yang memengaruhi (independent variable) dan “Kemampuan Berbahasa Inggris” sebagai variabel yang dipengaruhi (dependent variable). Pertanyaannya adalah rumusan mana judul yang paling tepat?

a. Rumusan judul a, kata “Pengaruh” menimbulkan kesan kaku dan kurang menarik. Kata ini bisa disajikan dalam rumusan masalah atau tujuan penelitian, tidak perlu dalam judul.

b. Rumusan judul b, dengan ditampilkannya lokasi penelitian menjadi kurang menarik. “Kota Jakarta” menunjukkan bahwa penelitian ini bernuansa lokal. Artinya judul artikel ini kurang menarik bagi pembaca yang tidak berkepentingan dengan lokasi kota Jakarta tersebut. Tempat pelaksanaan penelitian dan tempat pengumpulan data tidak perlu dicantumkan dalam judul penelitian. Hindari pula rumusan judul yang memiliki nuansa nama lembaga. Lokasi penelitian dan lembaga penelitian bisa lebih detail dijelaskan dalam metode penelitian.
c. Rumusan judul c, terhadap kata “Studi Kasus” yang menunjukkan pada metode penelitian. Penjelasan ini sebaiknya cukup dijelaskan dalam bagian metode penelitian.
d. Rumusan yang paling tepat adalah judul d. Rumusan ini jelas dan ringkas mencerminkan isi artikel. Rumusan ini juga tidak memiliki nuansa tempat (lokasi), lembaga, dan juga metode penelitian.
Pengalaman penulis dalam mencari dan mengoreksi judul biasanya muncul setelah artikel disusun hingga tahap simpulan. Kesimpulan berisi esensi dari penelitian. Esensi penelitian inilah yang dapat memberikan inspirasi penulis untuk merumuskan judul penelitian yang lebih tepat. Jadi hal yang biasa ketika judul naskah artikel berbeda dengan proposal penelitiannya. Hal ini biasa terjadi.
Judul untuk artikel jurnal akreditasi nasional biasanya ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dalam satu artikel, jika diperlukan dapat dimungkinkan ada judul utama dan subjudul. Ini biasanya dilakukan untuk memperjelas judul utama. Secara teknis rumusan judul biasanya maksimal 11 kata. Hal ini untuk memudahkan pembaca.
2. Nama Penulis
Nama penulis artikel ditulis dengan jelas dan lengkap, tanpa menuliskan gelar. Misalnya penulis: Yuni Sugiarti. Penulisan nama juga harus nama asli, bukan nama samaran. Bila nama lengkapnya panjang, bisa disingkat dengan mengikuti kaidah bahasa yang benar. Misalnya penulis: E. Oos M. Anwas.
Penulisan nama tidak perlu dituliskan status penulis, misalnya: peneliti, dosen, guru besar, mahasiswa pascasarjana, staf ahli, pengamat sosial, dan lain-lain. Jika penulis lebih dari satu orang, perlu disepakati siapa yang akan menjadi juru bicara (corresponding author) untuk berkomunikasi dengan para pembaca.
Jika artikel dibuat kolaborasi atau penulis lebih dari satu orang, perhatikan siapa penulis pertama atau kontributor utama. Antara penulis pertama dengan penulis berikutnya dipisahkan menggunakan tanda titik koma/semicolon (;), misalnya: Yasyfa Dewi; Ihsan Maulana; Ilham Nur Awali; dan seterusnya.
Penulis Utama biasanya menjadi penulis pertama, ditulis pada urutan pertama. Sedangkan Kontributor Utama tidak selalu ditulis sebagai penulis pertama. Penulisan sebagai Kontributor Utama bisa di depan, di tengah, atau di bagian terakhir. Yang membedakan sebagai Kontributor Utama adalah perlu ada keterangan bahwa yang bersangkutan sebagai Kontributor Utama.
Kontributor Utama bisa lebih dari satu orang. Hal ini memungkinkan apabila dalam penulisan artikel bahwa yang berkontribusi besar tidak hanyal satu orang. Bahkan Kontributor Utama bisa semua penulis, jika memang semuanya memiliki peran dan sama-sama berkontribusi besar dalam penulisan artikel tersebut. Penulisan Kontributor Utama yang lebih dari satu orang biasanya diberikan tanda atau keterangan: sama-sama sebagai Kontributor Utama (contributed equally in writing manuscript).
Penulis Utama atau Kontributor Utama memiliki peran berbeda dengan penulis anggota. Penulis Utama atau Kontributor Utama harus memberikan kontribusi pada artikel yang lebih besar dibandingkan dengan penulis/ kontributor anggota. Bagi jabatan fungsional tertentu, penulis sebagai penulis utama atau kontributor utama biasanya mempunyai angka kredit yang lebih besar. Begitu pun hak dan penghargaan intelektualnya berbeda.

3. Identitas Penulis
Sebagai tulisan ilmiah, identitas penulis baik Penulis Pertama, Kontributor Utama, atau penulis/kontributor anggota, semuanya wajib mencantumkan identitasnya. Identitas ini terdiri dari nama dan alamat instansi atau Lembaga
tempat penulis bekerja. Identitas penulis lainnya adalah alamat lengkap instansi dan alamat e-mail instansi maupun penulis. Alamat ini sangat berguna untuk melakukan korespondensi terutama antara pembaca, pengelola jurnal, dengan penulis. Oleh karena itu, pastikan menuliskan identitas penulis dengan benar dan lengkap. Pencantuman identitas penulis sebaiknya mengikuti gaya selingkung yang telah ditetapkan oleh masing-masing pengelola jurnal.
4.Abstrak
Abstrak dalam artikel ilmiah sangat penting. Para pembaca, sebelum membaca keseluruhan artikel biasanya membaca dulu abstraknya. Jika abstraknya menarik dan untuk tahu lebih jauh maka pembaca akan meneruskan membaca bagian keseluruhan artikel. Tidak sedikit para pembaca yang cukup hanya membaca abstraknya saja. Oleh karena itu, abstrak harus mampu mencerminkan keseluruhan isi artikel. Abstrak juga perlu dirumuskan dalam paragraf yang ringkas, mudah dibaca, dan mudah dipahami.
Isi abstrak paling tidak berisi: a. latar belakang masalah yang dirumuskan secara ringkas; b. tujuan penelitian/kajian; c. metode yang digunakan; d. hasil atau temuan penting; dan e. simpulan. Semua komponen tersebut ditulis secara ringkas. Abstrak untuk jurnal akreditasi nasional biasanya. ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Abstrak ditulis dalam bahasa Inggris bertujuan untuk memudahkan peluang dibaca dan disitasi secara global. Panjang abstrak biasanya untuk versi bahasa Indonesia maksimal 250 kata dan versi bahasa Inggris maksimal 200 kata.
“Abstract-One of the obstacles of learning English Language as a Foreign Language is the limitation of practicing media. Social media has many contents and facilities, which can be used for practicing English. The aim of this study is to find out students’ intensity of using English-language social media content. The study was conducted by quantitative approach and survey method among the Senior High School students in Jakarta, Indonesia. Data analysis shows that as students’ intensity who used English-language social media content is
low. Students’ perception of English skill in reading and writing is good, while students’ perception of listening and speaking is still low. The intensity of using English language social media content is positively and significantly related to students’ perceptions of their ability to speak English including reading. writing, listening and speaking aspects. Hence, social media is needed to be learning media for learning English language as a Foreign Language in Indonesia (sumber: Anwas, dkk, 2020).”
“Abstrak-Salah satu kendala dalam mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa asing adalah keterbatasan wahana untuk praktik. Media sosial memiliki banyak konten dan fasilitas yang dapat digunakan untuk berlatih bahasa Inggris. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui intensitas siswa menggunakan konten media sosial berbahasa Inggris. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan metode survei di kalangan siswa SMA di Jakarta, Indonesia. Analisis data menunjukkan bahwa intensitas siswa yang menggunakan konten media sosial berbahasa Inggris rendah. Persepsi siswa tentang keterampilan bahasa Inggris dalam membaca dan menulis adalah baik, sedangkan persepsi siswa tentang mendengarkan dan berbicara masih rendah. Intensitas penggunaan konten media sosial berbahasa Inggris secara positif dan signifikan terkait dengan persepsi siswa tentang kemampuan mereka untuk berbicara bahasa Inggris termasuk membaca, menulis, mendengarkan, dan aspek berbicara. Oleh karena itu, media sosial diperlukan untuk menjadi media pembelajaran untuk belajar bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing di Indonesia (sumber: Anwas, dkk, 2020).”
Kekeliruan yang sering ditemukan dalam menulis abstrak di antaranya: uraian terlalu panjang terutama menyajikan latar belakang yang terlalu panjang; menyajikan metode penelitian secara lengkap; menyajikan kutipan-kutipan atau kajian teori; menggunakan singkatan atau akronim; menyajikan data statistik dan hasil pengujian statistik; dan sejenisnya. Kekeliruan-kekeliruan
tersebut perlu dihindari. Prinsipnya abstrak ini bisa dibaca cepat tapi mampu membuat pembaca mendapatkan pemahaman umum tentang artikel. Jika pembaca ingin mengetahui lebih detail isi artikel maka yang bersangkutan akan membuka isi artikelnya secara lengkap.

Demikian panduan mengenai menulis bagian pendahuluan, apabila membutuhkan layanan pembuatan jurnal sinta maka dapat menghubungi admin ruang jurnal.


Sumber: Anwas, E. Oos M & Sugiarti, Y. (2020). Strategi Menulis Artikel Jurnal Bereputasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Kontak Sekarang

Daftar Jurnal

Latest Post

This will close in 20 seconds