RuangJurnal.com – Kami melayani jasa Fast Track Jurnal Sinta untuk berbagai kebutuhan anda, seperti kenaikan pangkat, syarat kelulusan, dan masih banyak lagi. Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai BAB 1 Menulis Artikel Ilmiah yang Komunikatif (1)
1 MENGAPA ARTIKEL ILMIAH?
ARTIKEL ilmiah, yakni tulisan khusus yang diolah (di baca: ditulis kembali) dari suatu hasil penelitian, dewasa ini adalah keniscayaan yang tak terbantahkan bagi insan kampus atau kaum akademikus. Pasalnya, penemuan si penulis nya akan tersebar luas ketika artikel ilmiahnya dipublikasikan melalui jurnal akademik yang bereputasi.
Pertanyaannya, buat apa insan kampus harus repot-repot menulis artikel ilmiah? Pasalnya, seperti masih terlihat, mereka cenderung lebih suka mengajar dan membimbing mahasiswa daripada harus bertekun berjam-jam di depan layar komputer guna menulis artikel ilmiah. Apalagi, jumlah honorarium meng ajar atau membimbing mahasiswa lebih pasti dan langsung bisa diterima, sementara kecenderungan jurnal akademik bereputasi dewasa ini justru meminta “kontribusi” bagi penulis yang artikel ilmiahnya telah dimuat.
Kecenderungan itu, celakanya, lantas menuai kepahitan bagi dunia akademik kita. Sejak 1994, misalnya, jurnal Scientific American sudah menyebutkan bahwa kontribusi peneliti Indonesia pada khazanah pengembangan dunia ilmu setiap tahunnya hanya sekitar 0,12% (Rifai, 2011). Dalam penegasan lain, insan kampus kita memang dikenal malas menulis, meskipun “amat rajin” me neliti sehingga tidak banyak hasil penelitian mereka yang ditulis kan kembali menjadi artikel ilmiah dan diterbitkan di jurnal jurnal akademik bereputasi. Dampak yang menyertainya adalah tulisan insan kampus kita jarang diacu, dirujuk, atau disitasi oleh ilmuwan lain. Berpijak dari kenyataan ini, kita patut mengapresiasi edaran Dirjen Dikti Kemdikbud RI No. 152/E/T/2012 tentang kewajiban mahasiswa (S-1, S-2, dan S-3) menulis artikel ilmiah jika hendak lulus sebagai sarjana. Melalui “pemaksaan” semacam ini, setidaknya muncul harapan tentang tersebarnya penemuan para insan kampus kita di jurnal-jurnal akademik be reputasi.
Pertanyaan lebih lanjut, apakah menulis artikel ilmiah bagi insan kampus kita masih dianggap sebagai pekerjaan yang sulit? Andai tidak dianggap sulit, apakah rata-rata insan kampus kita sudah memahami hakikat artikel ilmiah dan seluk-beluk pe nulisannya?
GAYA ILMIAH POPULER DAN INTELEKTUAL KOLEKTIF
SETIAP insan kampus pasti pernah menulis karya tulis ilmiah, entah itu skripsi, tesis, disertasi, atau mungkin laporan penelitian. Setiap insan kampus tentu pernah pula merasakan bagaimana dibimbing oleh pembimbing killer, yang berkesan memaksakan kehendaknya demi terwujudnya kecendekiaan bimbingannya.
Boleh saja diandaikan bahwa menulis karya tulis ilmiah ber korelasi dengan tingkat kecendekiaan si penulisnya. Masalah nya, benarkah seorang penulis pasti cendekia? Istilah cendekia (intelek) dan kecendekiaan (intelektualitas), merujuk pada ke mampuan berpikir dan memahami yang lebih tinggi sehubungan dengan akal budi. Oleh karena itu, jika ada anggapan bahwa seorang penulis pasti cendekia, tentulah karena dipicu oleh kenyataan bahwa pekerjaan menulis memang bertalian dengan se jumlah hal yang bertumpu pada kecerdasan. Itu sebabnya, tidak sedikit pembimbing yang bersikap killer.
Sebagai contoh, cobalah perhatikan komentar Edward Said, profesor sastra di Universitas Columbia, AS, terhadap pemenang Nobel 1988 Najib Mahfuz. Dikatakan Said, karya-karya Mahfuz mengandung makna intelektual dan sastra sehingga mampu mendorong penduduk pribumi Mesir bersikap kuat, langsung, dan tajam. Karakter-karakter dalam karya Mahfuz, menurut Said, akan menenggelamkan kita dalam alur naratif yang kental, membiarkan kita merenanginya dan diperdaya oleh pusaran gelombang karakter-karakter yang hidup di dalamnya. Terus terang, saya kesulitan memahami komentar Said, terutama karena ia bermain-main dengan metafora, sekalipun dari sudut kepe nulisan secara tersirat ia mengakui bahwa seorang penulis pasti lah cendekia (lihat: Wibowo, 2011).
Berbeda dari Said, saya justru hendak menegaskan bahwa seorang penulis belum tentu cendekia dan seorang yang cen dekia belum tentu menulis. Penyebabnya, kita memang selalu ditantang untuk “mencurigai” kecerdasan manusia melalui ungkapan-ungkapan bahasa tulisnya. Penggunaan metafora yang dilakukan Said, contohnya, merupakan wujud kecerdasan Said yang harus dicurigai, kemudian dibongkar habis sebab jangan jangan ada pesan yang menyesatkan di baliknya. Dalam per nyataan lain, saya harus segera menegaskan bahwa kecerdasan seorang penulis akan tampak justru ketika ia menulis melalui strategi komunikasi yang kontekstual, yang tidak serta-merta menganggap “hanya ada satu jalan menuju Roma”, atau hanya menganggap hanya ada satu cara dalam menulis. Ketidak pahaman terhadap hal inilah yang kerap melahirkan pem bimbing killer, alias pembimbing yang berkesan memaksakan kehendak karena “kacamatanya” buram oleh hal-hal yang ber sifat kontekstual.
Kontekstualitas berkenaan dengan buku ini tentu bertalian dengan strategi komunikasi kita dalam menulis artikel ilmiah. Hal ini berarti, artikel ilmiah bukan tidak membutuhkan meta fora, mengingat hakikat metafora adalah upaya kita dalam rangka mencari ketepatan makna suatu ungkapan. Dengan demikian, penggunaan metafora di dalam artikel ilmiah tidaklah perlu di persoalkan, sepanjang selaras dengan tujuan dan amanat penulis annya, yakni tampil komunikatif sehubungan dengan penyebar luasan penemuan penelitian. Oleh karena itu, menurut saya, penulis artikel ilmiah yang cerdas harus mencerminkan kecendekiaannya melalui gaya menulis ilmiah populer. Bagi sebagian orang, gaya menulis ilmiah populer sering kali dikatakan “longgar”, alias tidak berbobot ilmiah karena hanya bersifat pengenalan terhadap kulit luar persoalan ilmiah sehingga pembacanya tidak akan memperoleh ketuntasan penggarapan masalah, kehebatan teori, dan keorisinalan pendekatan yang dipakai (bdk. Rifai, 2012). Secara lebih khusus, bahkan sebagian orang juga masih meng anggap bahwa gaya menulis ilmiah populer bertentangan dengan pedoman berbahasa baku. Penggunaan kata-kata “penipuan dan penggelapan” dalam “si Aceng dihukum karena melakukan penipuan dan penggelapan”, contohnya, dikatakan termasuk dalam kategori kata-kata populer alias tidak ilmiah. Menurut mereka, agar ilmiah kata-kata “penipuan dan penggelapan” itu harus diubah menjadi “tindak pidana” (bdk. Finoza, 2004). Akan tetapi, hemat saya, pelbagai istilah teknis di dalam artikel ilmiah justru harus dijelaskan secara populer agar pembaca bisa memeroleh informasi yang terang-benderang sehingga komunikasi yang ter bangun adalah komunikasi yang emansipatoris. Dari sudut strategi komunikasi, patut ditegaskan kita memang tidak perlu “bersembunyi” di balik kata-kata teknis hanya untuk mengesankan diri kita ilmiah.
Menjadi benar, pilihan terhadap gaya menulis ilmiah populer untuk artikel ilmiah adalah pilihan yang cerdas. Pasalnya, selain membuktikan bahwa bahasa merupakan suatu tata permainan di dalam kehidupan yang beraneka ragam, sekaligus meneguh kan bahwa ada banyak cara dalam menggunakan bahasa untuk menyampaikan sesuatu yang bersifat ilmiah. Pilihan terhadap gaya menulis ilmiah populer juga memiliki alasan epistemo logisnya, mengingat selama ini artikel ilmiah masih dianggap sebagai ragam tulis yang “wajib” membuat pembacanya berkerut dahi, akibat sarat oleh istilah teknis dan jargon keilmuan yang berat-berat. Alhasil, sebagaimana telah saya singgung, artikel ilmiah yang ditulis seperti itu tidak mengesankan komunikasi yang emansipatoris. Apalagi, menurut Rifai (2011), belakangan ini jurnal akademik internasional yang bereputasi sudah me ningkatkan kualitas dalam rangka memapankan tradisi ilmiah mereka dengan cara mewajibkan para penulisnya menulis artikel ilmiah yang berpijak dari hasil penelitian, dengan catatan artikel ilmiah tersebut harus mudah ditelaah dan dirujuk oleh sesama ilmuwan dan pakar berkeahlian sejenis.
Dalam penegasan lain, pilihan terhadap gaya menulis ilmiah populer menyebabkan artikel ilmiah kita menjadi enak dibaca, yakni mudah dipahami karena dinarasikan secara komunikatif, emansipatoris, singkat, jelas, tepat, mencerahkan, dan objektif. Boleh pula digarisbawahi, asal tetap berbasis pada hasil peneliti an, dan tetap sesuai dengan konteks format kepenulisannya, peng gunaan gaya menulis ilmiah populer untuk artikel ilmiah justru akan lebih memiliki nilai kegunaannya sehubungan dengan sumbangannya bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa. Apalagi, tentu kita paham, kehadiran nilai-nilai mondial di tengah-tengah kehidupan akademik kita dewasa ini telah menimbulkan dialog panjang yang dialektis. Dialog ini makin dialektis ketika nilai-nilai lokal yang sehari-hari masih dijadikan norma oleh masyarakat kita bercampur-baur dengan nilai-nilai lokal dari masyarakat lainnya sehingga yang muncul ke per mukaan adalah komunikasi yang tidak nyambung. Sementara itu, banyak di antara kita yang masih memandang ilmu penge tahuan dan penemuan teknologi Barat dengan rasa takjub tanpa diurapi sikap kritis. Padahal, ditinjau dari perspektif etis, ketakjub an tanpa kekritisan sering kali membahayakan kehidupan bangsa. Sebagaimana kita saksikan, teknologi internet, misalnya, tak jarang hanya dijadikan alat copy paste belaka. Bahkan, sekarang ini bukan kah kita mudah sekali “mencuri” (bahkan, “merampok”) melalui internet apa pun yang kita butuhkan sehubungan dengan penelitian.
Kembali pada gaya menulis ilmiah populer, cobalah Anda simak dua kutipan berikut ini. Perhatikanlah, penulis pada kutip an pertama tampak berupaya menjelaskan sesuatu yang ilmiah secara populer, sedangkan penulis pada kutipan kedua berkesan ingin membuat pembacanya berkerut dahi.
KUTIPAN 1
Bidan kampung di masyarakat Banjar telah ada jauh sebelum masa kolonial Belanda mengenalkan medis di wilayah Indonesia. Bidan kampung adalah seorang perempuan yang umurnya sudah cukup tua (50-70 tahun) dan tidak melahirkan lagi sehingga mampu membantu persalinan orang lain. Bidan kampung pada umumnya mendapatkan keterampilan turun-temurun dari generasi di atasnya. Sebagai penolong persalinan, bidan kampung di komunitas Banjar ini lebih diminati daripada penolong medis lainnya. (Serilaila, “Menjaga Tradisi: Tingginya Animo Suku Banjar Bersalin kepada Bidan Kampung”, Jurnal Humaniora, Juni 2010)
KUTIPAN 2
Makrofungi merupakan organisme yang sangat penting dalam menunjang kehidupan di permukaan bumi ini. Di alam, terutama di hutan, makrofungi berperan dalam siklus energi melalui proses dekomposisi oleh enzim-enzim yang dihasilkannya dalam merombak senyawa kompleks seperti selulosa dan khitin menjadi bentuk sederhana (glukosa). Di samping itu, makrofungi juga penting dalam menyediakan unsur-unsur hara lainnya yang dibutuhkan tumbuhan. Makrofungi lainnya bersimbiosis dengan tanaman membentuk mikoriza. Jenis-jenis mikoriza dari makrofungi yang banyak ditemukan di lapangan adalah Sceloderma spp, Boletus spp, Agaricus spp, dan lain lainnya. (Noverita, “Keanekaragaman Makrofungi di Indonesia dan Potensinya”, Jurnal Ilmu dan Budaya, Agustus 2012).
Sudah saya katakan, kecerdasan seorang penulis justru akan tampak ketika ia menulis melalui strategi komunikasi yang kon tekstual melalui gaya menulis ilmiah populer. Dalam perspektif kritis, hal ini setidaknya seirama dengan tindakan Bourdieu ketika melansir gerakan intelektual kolektif di Prancis.
Sosiolog kontemporer Prancis itu, pada 1980-an begitu geram melihat para insan kampus di Prancis yang dianggap telah meng abaikan tugas-tugas utamanya. Pada waktu itu, otoritas politik di Prancis mendominasi otonomi intelektual melalui pengawas an dan sensor yang berlebihan terhadap aktivitas intelektual. Dampaknya, kaum intelektual Prancis cenderung memilih jalan aman, yakni bekerja hanya atas nama uang. Itu sebabnya, Bourdieu dengan geram mengatakan bahwa penetrasi uang telah membuat para intelektual menjadi “mata duitan” sehingga mengabaikan panggilan utamanya sebagai intelektual. Itu pula sebabnya, ia lantas menggagas gerakan intelektual kolektif, berupa pembentuk an kelompok intelektual yang dengan kompetensinya masing masing saling memberi pengetahuan dan juga saling membela kaum intelektual lain yang terdominasi (Jenkins, 2004; Mutahir, 2011; Wibowo, 2012).
Apakah suasana represif di Prancis pada 1980-an itu sama dengan suasana represif di Indonesia pada kurun waktu yang sama? Andai melihat dampak dan gejalanya, memang tidak se dikit insan kampus kita yang ketika itu berkecenderungan me nempuh jalan aman, misalnya lebih suka mengajar dan mem bimbing mahasiswa tanpa tergerak untuk rajin-rajin menulis artikel ilmiah yang diberangkatkan dari hasil penelitian mereka. Jika mereka tergerak, itu pun semata-mata demi memenuhi tuntutan BKD (beban kerja dosen), demi mengejar proyek, atau demi mengurus kepangkatan akademiknya. Akan tetapi, “jalan aman” yang mereka tempuh ini hemat saya bukanlah dampak dari suasana represif itu sendiri, melainkan lebih pada semangat pragmatisme yang mereka hayati, yang boleh jadi akibat maraknya kehidupan modern. Alhasil, mereka itu berkesan tak lebih dari sekadar “juru bicara” Barat karena hanya mempromosikan kehebatan teori-teori Barat kepada mahasiswa. Padahal, sebagai mana sudah disinggung, ketakjuban tanpa kekritisan dalam me lihat hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat akan membahayakan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, melalui arti kel ilmiah sudah tiba saatnya kita sekarang ini memunculkan teori, konsep, atau paradigma “baru” yang bercita-rasa Indonesia, atau made in Indonesia, sebagai dampak dari catatan, koreksi, dan bahkan kritik terhadap teori-teori Barat yang selama ini kita gunakan.
Mitos bahwa tanpa mengekor Barat kita belum dianggap ilmiah dan modern, mestilah kita kis. Pasalnya, sebuah teori yang lahir dari tempat lain dan dalam waktu yang berbeda belum tentu cocok dengan konteks kehidupan kita.
Demikian panduan mengenai BAB 1 Menulis Artikel Ilmiah yang Komunikatif (1), apabila membutuhkan layanan pembuatan jurnal sinta untuk menghemat waktu anda. Dapat menghubungi admin ruang jurnal
Sumber: Wibowo, W. 2018. Menulis Artikel Ilmiah yang Komunikatif (Strategi Menembus Jurnal Akademik Bereputasi). Jakarta: Bumi Aksara










