Berapa persen self citation yang wajar dalam sebuah publikasi ilmiah sering menjadi pertanyaan ketika penulis sedang memeriksa daftar referensi sebelum mengirim artikel ke jurnal. Self citation dapat digunakan ketika penelitian baru memiliki hubungan dengan karya yang pernah diterbitkan sebelumnya. Namun, penggunaannya tetap perlu mempertimbangkan relevansi, proporsi, dan tujuan akademik.
Pertanyaan ini penting karena jumlah self citation tidak selalu dapat dinilai hanya berdasarkan banyaknya referensi dari karya sendiri. Setiap bidang ilmu memiliki karakter publikasi dan pola sitasi yang berbeda. Selain itu, kebutuhan referensi pada artikel penelitian juga tidak sama dengan artikel tinjauan atau kajian konseptual.
Melalui pembahasan ini, pembaca dapat memahami berapa persen self citation yang wajar, mengapa tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua artikel, serta faktor yang perlu diperhatikan sebelum menentukan proporsinya. Artikel ini juga membahas contoh penggunaan, cara menghitung persentase, kesalahan yang perlu dihindari, dan langkah praktis untuk menjaga referensi tetap seimbang.

Apa Itu Self Citation dalam Publikasi Ilmiah?
Self citation adalah penggunaan karya ilmiah yang sebelumnya ditulis atau diterbitkan oleh penulis yang sama sebagai referensi dalam publikasi berikutnya. Karya tersebut dapat berupa artikel jurnal, prosiding, buku, laporan penelitian, atau publikasi lain yang relevan. Dengan demikian, self citation menjadi bagian dari hubungan antara penelitian lama dan penelitian baru.
Sebagai contoh, seorang peneliti pernah menerbitkan artikel mengenai metode analisis tertentu. Dalam penelitian berikutnya, metode tersebut kembali digunakan atau dikembangkan untuk menjawab masalah yang berbeda. Artikel sebelumnya dapat dikutip karena memberikan dasar metodologis yang dibutuhkan dalam penelitian baru.
Karena itu, self citation tidak otomatis menunjukkan praktik yang buruk. Penelitian yang dilakukan secara berkelanjutan justru sering membutuhkan rujukan terhadap karya sebelumnya. Persoalan muncul ketika referensi dari karya sendiri digunakan tanpa alasan akademik yang jelas atau jumlahnya terlalu dominan dibandingkan kebutuhan penelitian.
Baca Juga: 100+ Jurnal Terindeks Scopus Gratis Bidang Ilmu Lingkungan
Berapa Persen Self Citation yang Wajar?
Tidak ada satu persentase universal yang dapat disebut sebagai batas aman untuk semua publikasi ilmiah. Angka yang dianggap wajar dapat berbeda bergantung pada bidang ilmu, jenis artikel, jumlah literatur yang tersedia, riwayat penelitian penulis, dan kebijakan jurnal. Karena itu, penulis sebaiknya tidak menggunakan satu angka sebagai aturan mutlak.
Misalnya, artikel yang benar-benar merupakan kelanjutan dari rangkaian penelitian sebelumnya mungkin membutuhkan beberapa referensi dari karya penulis sendiri. Sebaliknya, artikel dengan topik yang relatif baru bagi penulis mungkin hanya membutuhkan sedikit atau bahkan tidak memerlukan self citation. Perbedaan konteks tersebut membuat persentase harus dilihat secara lebih fleksibel.
Jika ingin menggunakan ukuran sederhana, persentase self citation dapat dihitung dengan membandingkan jumlah referensi karya sendiri dengan total referensi yang digunakan. Rumusnya adalah jumlah referensi dari karya sendiri dibagi jumlah seluruh referensi, kemudian dikalikan 100 persen.
Sebagai ilustrasi, sebuah artikel memiliki 40 referensi. Dari jumlah tersebut, 4 merupakan karya yang sebelumnya ditulis oleh penulis artikel. Perhitungannya adalah 4 dibagi 40 lalu dikalikan 100 persen, sehingga proporsinya menjadi 10 persen. Angka tersebut belum dapat langsung dinyatakan wajar atau berlebihan tanpa melihat relevansi keempat sumber tersebut.
Mengapa Tidak Ada Batas Persentase yang Berlaku untuk Semua Artikel?
Perbedaan karakter penelitian menjadi alasan utama mengapa tidak ada angka tunggal untuk menentukan batas self citation. Penelitian yang membangun teori atau instrumen tertentu dapat memiliki hubungan yang kuat dengan publikasi sebelumnya. Dalam kondisi seperti itu, referensi dari karya sendiri mungkin lebih dibutuhkan dibandingkan pada penelitian yang membahas topik umum.
Selain jenis penelitian, jumlah literatur yang tersedia juga berpengaruh. Pada topik yang memiliki banyak penelitian dari berbagai penulis, referensi sebaiknya menunjukkan perspektif yang lebih luas. Penulis tidak perlu menjadikan publikasi sendiri sebagai sumber utama apabila terdapat banyak penelitian lain yang lebih relevan.
Jenis artikel juga perlu dipertimbangkan. Artikel penelitian, artikel tinjauan, dan artikel konseptual dapat memiliki kebutuhan referensi yang berbeda. Oleh karena itu, penilaian proporsi sebaiknya dilakukan berdasarkan fungsi setiap sumber, bukan hanya berdasarkan persentasenya.
Faktor yang Memengaruhi Proporsi Self Citation
Untuk memahami berapa persen self citation yang wajar, penulis perlu melihat beberapa faktor yang membentuk kebutuhan referensi. Persentase hanya memberikan gambaran awal mengenai proporsi sumber. Penilaian yang lebih baik membutuhkan pemeriksaan terhadap isi dan fungsi setiap sitasi.
Beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Relevansi penelitian sebelumnya. Karya sendiri sebaiknya memiliki hubungan langsung dengan topik, teori, metode, data, atau temuan yang dibahas.
- Jenis artikel. Artikel tinjauan literatur dapat membutuhkan cakupan sumber yang lebih luas dibandingkan artikel yang melanjutkan penelitian spesifik.
- Jumlah referensi keseluruhan. Empat self citation dalam 20 referensi tentu memiliki proporsi berbeda dengan empat self citation dalam 100 referensi.
- Karakter bidang ilmu. Kebiasaan publikasi dan pola penggunaan referensi dapat berbeda antara bidang sosial, pendidikan, teknik, kesehatan, ekonomi, dan bidang lainnya.
- Riwayat penelitian penulis. Penulis yang sudah lama meneliti satu topik mungkin memiliki lebih banyak karya yang relevan untuk dirujuk.
- Kebijakan jurnal. Pedoman jurnal atau penerbit perlu diperiksa karena dapat memberikan ketentuan khusus mengenai referensi dan praktik sitasi.
Faktor tersebut menunjukkan bahwa persentase sebaiknya digunakan sebagai alat evaluasi, bukan sebagai satu-satunya keputusan. Penulis tetap perlu memeriksa apakah setiap karya sendiri benar-benar memiliki fungsi dalam artikel.
Cara Menghitung Persentase Self Citation
Menghitung persentase self citation sebenarnya cukup sederhana. Tujuannya adalah mengetahui seberapa besar bagian referensi yang berasal dari karya penulis sendiri. Perhitungan ini dapat dilakukan ketika daftar pustaka sudah mendekati versi final.
Langkahnya dapat dilakukan sebagai berikut:
- Hitung seluruh referensi yang digunakan dalam artikel.
- Tandai referensi yang termasuk karya penulis sendiri atau karya yang ditulis bersama oleh penulis artikel.
- Hitung jumlah karya yang termasuk dalam kategori tersebut.
- Bagi jumlah self citation dengan total referensi.
- Kalikan hasil pembagian dengan 100 persen untuk memperoleh persentasenya.
Sebagai contoh, sebuah artikel memiliki 50 referensi. Setelah diperiksa, terdapat 5 referensi yang berasal dari publikasi penulis sendiri. Perhitungannya adalah 5 ÷ 50 × 100 persen, sehingga proporsinya menjadi 10 persen.
Namun, hasil tersebut tidak berarti bahwa 10 persen selalu menjadi angka yang tepat untuk semua artikel. Angka tersebut hanya menunjukkan proporsi referensi. Penulis tetap perlu menilai relevansi dan fungsi kelima sumber tersebut dalam pembahasan.

Apakah Self Citation 10 Persen Selalu Wajar?
Angka 10 persen sering kali terlihat mudah digunakan sebagai patokan. Namun, angka tersebut tidak dapat dianggap sebagai standar universal yang otomatis membuat sebuah artikel aman. Sebuah artikel dengan proporsi 10 persen masih perlu diperiksa apabila referensi tersebut sebenarnya tidak relevan.
Sebaliknya, proporsi yang sedikit lebih tinggi tidak otomatis berarti pelanggaran apabila seluruh karya yang digunakan memang memiliki fungsi akademik yang kuat. Misalnya, penelitian baru secara langsung mengembangkan instrumen, model, atau temuan yang sebelumnya telah dipublikasikan oleh penulis. Dalam kondisi tersebut, beberapa referensi sendiri mungkin memang diperlukan untuk menjelaskan perkembangan penelitian.
Jadi, pertanyaan berapa persen self citation yang wajar sebaiknya tidak berhenti pada angka. Penulis juga perlu bertanya apakah sumber tersebut dibutuhkan oleh pembaca untuk memahami penelitian. Jika jawabannya ya, penggunaan referensi tersebut memiliki alasan yang lebih kuat.
Kapan Self Citation Masih Dapat Dianggap Proporsional?
Self citation dapat dianggap proporsional ketika karya sebelumnya memiliki kontribusi nyata terhadap penelitian baru. Referensi tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan dasar teori, metode, instrumen, temuan, atau perkembangan penelitian. Dengan demikian, keberadaannya dapat dijelaskan secara akademik.
Contohnya, peneliti pernah mengembangkan instrumen penelitian dalam artikel sebelumnya. Pada artikel baru, instrumen tersebut digunakan setelah melalui proses adaptasi. Referensi terhadap artikel lama dibutuhkan agar pembaca mengetahui asal instrumen dan dasar pengembangannya.
Kondisi serupa dapat terjadi pada penelitian yang dilakukan secara bertahap. Penelitian pertama menghasilkan temuan awal, penelitian kedua menguji temuan tersebut, sedangkan penelitian ketiga memperluas objek kajian. Rangkaian tersebut membuat self citation memiliki fungsi untuk menunjukkan kesinambungan penelitian.
Kapan Persentase Self Citation Mulai Perlu Dievaluasi?
Persentase self citation perlu dievaluasi ketika karya sendiri mulai mendominasi referensi tanpa alasan yang jelas. Dominasi tersebut tidak selalu ditentukan oleh angka tertentu. Yang perlu dilihat adalah apakah komposisi referensi masih menggambarkan literatur secara objektif.
Misalnya, sebuah artikel menggunakan 30 referensi dan 15 di antaranya merupakan karya penulis sendiri. Proporsinya mencapai 50 persen. Angka tersebut tentu perlu diperiksa lebih lanjut, terutama jika topik artikel sebenarnya memiliki banyak penelitian relevan dari penulis lain.
Masalah juga dapat muncul ketika beberapa karya sendiri digunakan untuk mendukung pernyataan yang sebenarnya lebih tepat dijelaskan oleh sumber utama dari peneliti lain. Dalam situasi seperti ini, penulis sebaiknya membandingkan kembali sumber yang tersedia. Referensi yang paling tepat harus dipilih berdasarkan kualitas dan relevansinya.
Perbandingan Proporsi dan Kondisi Penggunaan Self Citation
Persentase dapat membantu penulis melihat komposisi referensi secara cepat. Namun, angka tersebut harus dibaca bersama konteks penelitian. Tabel berikut dapat digunakan sebagai gambaran awal, bukan sebagai aturan mutlak.
| Proporsi dalam daftar referensi | Kondisi yang perlu diperhatikan |
|---|---|
| Sangat rendah | Tetap periksa apakah karya sendiri yang relevan sudah dirujuk |
| Rendah hingga sedang | Evaluasi relevansi dan fungsi setiap karya |
| Cukup tinggi | Periksa keseimbangan dengan literatur dari penulis lain |
| Sangat tinggi | Tinjau kembali seluruh referensi dan alasan penggunaannya |
Tabel tersebut menunjukkan bahwa tidak tepat jika penulis langsung menentukan kualitas artikel hanya berdasarkan persentase. Proporsi yang rendah pun belum tentu baik apabila penelitian sebelumnya yang sangat relevan justru tidak disebutkan. Sebaliknya, proporsi yang tinggi perlu memiliki alasan yang kuat dan dapat dijelaskan.
Karena itu, angka sebaiknya digunakan sebagai sinyal untuk melakukan pemeriksaan. Setelah mengetahui persentasenya, penulis dapat membaca kembali setiap referensi dan melihat kontribusinya terhadap artikel.
Contoh Penggunaan Self Citation yang Wajar
Bayangkan seorang peneliti memiliki 60 referensi dalam artikel baru. Sebanyak 6 referensi merupakan karya yang ditulisnya sendiri. Secara matematis, proporsinya adalah 10 persen.
Dalam kasus ini, keenam karya tersebut ternyata digunakan untuk menjelaskan pengembangan model, metode penelitian, hasil penelitian terdahulu, dan instrumen yang digunakan. Sementara itu, 54 referensi lainnya berasal dari peneliti berbeda dan digunakan untuk membangun tinjauan literatur yang lebih luas.
Kondisi tersebut dapat menunjukkan penggunaan yang proporsional karena karya sendiri tidak digunakan sekadar untuk menambah jumlah sitasi. Setiap referensi memiliki fungsi yang dapat dijelaskan. Penilaian akhirnya tetap bergantung pada konteks artikel dan kebijakan jurnal yang dituju.
Contoh Penggunaan Self Citation yang Kurang Tepat
Sebagai contoh lain, sebuah artikel memiliki 40 referensi dan 16 di antaranya merupakan karya penulis sendiri. Proporsinya mencapai 40 persen. Angka tersebut tidak otomatis membuktikan adanya pelanggaran, tetapi cukup menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih mendalam.
Setelah diperiksa, ternyata beberapa karya tersebut hanya memiliki hubungan yang sangat lemah dengan topik. Sebagian lainnya digunakan untuk menjelaskan teori umum yang sebenarnya lebih tepat didukung oleh literatur utama dari peneliti lain. Dalam kondisi seperti ini, referensi perlu diseleksi kembali.
Penulis dapat mempertahankan sumber yang memang relevan dan mengganti sumber yang kurang sesuai. Langkah tersebut membuat daftar pustaka lebih seimbang tanpa harus menghapus seluruh karya sendiri.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Mengatur Self Citation
Kesalahan pertama adalah menganggap ada satu angka pasti yang menjamin penggunaan self citation aman. Cara berpikir tersebut dapat membuat penulis terlalu fokus pada perhitungan. Padahal, kualitas dan relevansi sumber tetap menjadi pertimbangan utama.
Kesalahan kedua adalah memasukkan karya sendiri sebanyak mungkin karena ingin meningkatkan jumlah sitasi. Tujuan tersebut dapat membuat daftar pustaka kehilangan keseimbangan. Sitasi seharusnya digunakan untuk mendukung informasi dan argumentasi, bukan sekadar meningkatkan metrik.
Kesalahan berikutnya adalah tidak membandingkan karya sendiri dengan penelitian dari penulis lain. Literatur yang lebih baru atau lebih relevan bisa saja tersedia. Karena itu, penulis perlu melihat penelitian secara luas sebelum menentukan referensi yang akan digunakan.
Cara Menjaga Self Citation Tetap Seimbang
Menjaga keseimbangan self citation dapat dilakukan sejak tahap pencarian literatur. Penulis sebaiknya mengumpulkan berbagai sumber yang relevan terlebih dahulu. Setelah itu, karya sendiri dapat dipilih apabila memang memberikan kontribusi terhadap pembahasan.
Sebelum artikel dikirim, daftar pustaka juga perlu diperiksa kembali. Tandai semua karya sendiri dan hitung proporsinya. Kemudian, baca bagian artikel yang menggunakan sumber tersebut untuk memastikan bahwa setiap sitasi benar-benar memiliki fungsi.
Penulis juga perlu memeriksa pedoman jurnal. Jika terdapat aturan khusus mengenai sitasi, ketentuan tersebut harus menjadi salah satu pertimbangan sebelum manuskrip dikirim. Dengan begitu, keputusan akhir tidak hanya berdasarkan perhitungan pribadi.
Apakah Jumlah Self Citation Berpengaruh terhadap Kualitas Artikel?
Jumlah self citation bukan ukuran tunggal untuk menentukan kualitas artikel ilmiah. Artikel yang memiliki banyak sitasi dari karya sendiri belum tentu lebih berkualitas dibandingkan artikel dengan sedikit self citation. Kualitas penelitian tetap berkaitan dengan kebaruan, metode, data, analisis, argumentasi, dan kontribusi ilmiahnya.
Referensi yang beragam justru dapat membantu memperlihatkan posisi penelitian secara lebih objektif. Penulis dapat membandingkan hasil penelitian sendiri dengan temuan dari peneliti lain. Perbandingan tersebut membuat pembahasan lebih kaya dan membantu pembaca memahami kontribusi penelitian.
Dengan demikian, fokus utama sebaiknya bukan mengejar persentase tertentu. Penulis perlu memastikan bahwa seluruh referensi memang membantu menjawab pertanyaan penelitian dan mendukung argumentasi yang dibangun.
Peran Pedoman Jurnal dalam Menentukan Self Citation
Pedoman jurnal merupakan salah satu sumber penting yang perlu diperiksa sebelum artikel dikirim. Setiap jurnal dapat memiliki kebijakan editorial yang berbeda mengenai referensi, etika publikasi, dan praktik sitasi. Karena itu, penulis sebaiknya membaca author guidelines secara menyeluruh.
Jika jurnal memberikan ketentuan tertentu mengenai self citation, penulis perlu mengikuti aturan tersebut. Selain itu, pemeriksaan terhadap kebijakan penerbit juga dapat membantu menghindari masalah pada tahap editorial. Langkah ini penting terutama ketika artikel ditujukan untuk jurnal yang memiliki standar publikasi ketat.
Namun, tidak adanya batas angka dalam pedoman jurnal bukan berarti penulis bebas menggunakan karya sendiri tanpa pertimbangan. Relevansi dan integritas tetap menjadi dasar utama. Referensi harus dipilih karena kontribusinya terhadap artikel, bukan hanya karena berasal dari penulis yang sama.
Memahami Proporsi Self Citation secara Objektif
Pada akhirnya, pertanyaan berapa persen self citation yang wajar tidak dapat dijawab dengan satu angka yang berlaku untuk semua publikasi ilmiah. Persentase dapat digunakan untuk melihat proporsi referensi, tetapi konteks penggunaannya tetap harus diperiksa. Relevansi, fungsi, jenis artikel, bidang ilmu, dan pedoman jurnal merupakan bagian penting dalam penilaian.
Jika karya sebelumnya memang menjadi dasar penelitian baru, self citation dapat digunakan secara wajar meskipun proporsinya tidak selalu sama pada setiap artikel. Sebaliknya, persentase yang terlihat kecil tetap perlu diperiksa jika sumber tersebut tidak memiliki fungsi yang jelas. Prinsip yang paling aman adalah memilih referensi berdasarkan kebutuhan akademik.
Dengan memahami hal tersebut, penulis dapat menggunakan karya sendiri tanpa menjadikan sitasi sebagai alat untuk mengejar angka. Daftar pustaka yang seimbang akan membantu menunjukkan hubungan penelitian sekaligus memberikan ruang bagi literatur dari peneliti lain. Pendekatan ini dapat mendukung kualitas artikel dan menjaga integritas publikasi ilmiah.
Baca Juga: Batas Self Citation dan Pentingnya Menjaga Integritas dalam Publikasi Ilmiah
Kesimpulan
Berapa persen self citation yang wajar tidak dapat ditentukan melalui satu angka yang berlaku untuk seluruh artikel ilmiah. Persentase perlu dilihat bersama relevansi sumber, fungsi sitasi, karakter bidang ilmu, jenis artikel, jumlah literatur yang tersedia, serta pedoman jurnal. Karena itu, angka seperti 10 persen sebaiknya dipahami sebagai contoh perhitungan, bukan batas universal yang otomatis menentukan apakah self citation sudah tepat.
Penulis sebaiknya menghitung proporsi sebagai langkah evaluasi, kemudian memeriksa kembali fungsi setiap karya yang dikutip. Selama referensi dari penelitian sendiri benar-benar relevan, digunakan secara proporsional, dan tidak bertujuan memanipulasi jumlah sitasi, penggunaannya dapat menjadi bagian yang wajar dalam publikasi ilmiah. Dengan menjaga keseimbangan antara karya sendiri dan literatur dari peneliti lain, artikel dapat memiliki dasar referensi yang lebih kuat dan objektif.
Bagi Anda yang sedang mempersiapkan artikel ilmiah bidang teknik, membutuhkan bantuan analisis data, proofreading akademik, pengecekan similarity, penerjemahan artikel, pemilihan jurnal target, hingga pendampingan submit jurnal Scopus, layanan konsultasi akademik profesional dapat membantu meningkatkan kualitas manuskrip sekaligus memperbesar peluang publikasi pada jurnal bereputasi internasional.










