Cara Menentukan Variabel Intervening dalam Model Penelitian

Daftar Isi

Dalam penelitian kuantitatif, hubungan antarvariabel tidak selalu berlangsung secara langsung. Terkadang, pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain terjadi melalui proses tertentu. Kondisi inilah yang membuat variabel intervening penting untuk dipahami.

Variabel intervening digunakan ketika peneliti menduga bahwa hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat berlangsung melalui variabel perantara. Dengan kata lain, variabel ini membantu menjelaskan bagaimana atau melalui proses apa suatu pengaruh dapat terjadi.

Contohnya dapat ditemukan dalam penelitian tentang pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas pelanggan. Kualitas pelayanan mungkin tidak hanya berkaitan langsung dengan loyalitas. Kepuasan pelanggan dapat menjadi variabel yang membantu menjelaskan proses hubungan tersebut.

Karena itu, menentukan variabel intervening membutuhkan dasar teori yang jelas. Peneliti juga perlu memahami hubungan antarvariabel sebelum memasukkan variabel perantara ke dalam model penelitian.

cara menentukan variabel intervening

Pengertian Variabel Intervening

Variabel intervening adalah variabel yang berada di antara variabel independen dan variabel dependen dalam suatu model penelitian. Variabel ini digunakan untuk menjelaskan mekanisme atau proses yang menghubungkan kedua variabel tersebut.

Dalam istilah sederhana, variabel intervening dapat disebut sebagai variabel perantara. Posisi tersebut membuat variabel intervening memiliki peran berbeda dari variabel bebas maupun variabel terikat.

Sebagai contoh, penelitian menguji pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas pelanggan. Peneliti menduga bahwa kualitas pelayanan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan terlebih dahulu. Setelah itu, kepuasan pelanggan berkaitan dengan loyalitas.

Model sederhananya dapat digambarkan sebagai berikut:

X → Z → Y

X merupakan variabel bebas. Z merupakan variabel intervening. Sementara itu, Y merupakan variabel terikat.

Baca Juga: 100+ Jurnal Terindeks Scopus Gratis Bidang Ilmu Lingkungan

Fungsi Variabel Intervening dalam Penelitian

Fungsi utama variabel intervening adalah membantu menjelaskan proses hubungan antarvariabel. Peneliti tidak hanya ingin mengetahui apakah X berkaitan dengan Y. Peneliti juga ingin memahami bagaimana hubungan tersebut dapat terjadi.

Misalnya, seseorang meneliti pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas pelanggan. Jika kepuasan pelanggan menjadi variabel intervening, peneliti dapat melihat apakah kualitas pelayanan berkaitan dengan kepuasan. Selanjutnya, peneliti dapat melihat hubungan kepuasan dengan loyalitas.

Dengan demikian, model penelitian menjadi lebih informatif. Peneliti dapat memperoleh gambaran mengenai jalur hubungan yang lebih lengkap.

Namun, variabel intervening tidak boleh ditambahkan hanya untuk membuat model penelitian terlihat lebih kompleks. Setiap variabel harus memiliki alasan teoritis dan dapat diuji secara empiris.

Perbedaan Variabel Intervening dan Variabel Independen

Variabel independen merupakan variabel yang ditempatkan sebagai faktor awal dalam model penelitian. Sementara itu, variabel intervening berada di antara variabel independen dan dependen.

Perbedaan tersebut dapat dilihat melalui tabel berikut.

AspekVariabel IndependenVariabel Intervening
PosisiBagian awal modelDi antara X dan Y
PeranFaktor atau prediktorPerantara hubungan
Simbol umumXZ atau M
HubunganMemengaruhi atau berkaitan dengan Z/YMenjelaskan jalur X menuju Y
ContohKualitas pelayananKepuasan pelanggan

Tabel tersebut memberikan gambaran dasar mengenai perbedaan kedua jenis variabel. Dalam praktiknya, peneliti tetap perlu menggunakan teori untuk menentukan posisi variabel.

Perbedaan Variabel Intervening dan Variabel Terikat

Variabel intervening juga berbeda dari variabel terikat. Variabel terikat merupakan hasil akhir yang ingin dijelaskan dalam model. Sebaliknya, variabel intervening berada di tengah proses hubungan.

Sebagai contoh, penelitian membahas kualitas pelayanan, kepuasan pelanggan, dan loyalitas pelanggan. Kualitas pelayanan dapat menjadi variabel bebas. Kepuasan pelanggan dapat menjadi variabel intervening. Loyalitas pelanggan menjadi variabel terikat.

Dengan model tersebut, kepuasan pelanggan bukan hasil akhir penelitian. Variabel tersebut justru membantu menjelaskan hubungan menuju loyalitas pelanggan.

Perbedaan posisi ini penting. Jika peneliti salah menentukan fungsi variabel, model penelitian dapat menjadi tidak konsisten.

Kapan Variabel Intervening Dibutuhkan?

Variabel intervening dapat digunakan ketika terdapat alasan teoritis bahwa pengaruh X terhadap Y berlangsung melalui variabel lain. Artinya, peneliti memiliki dugaan mengenai mekanisme hubungan yang lebih kompleks.

Misalnya, peneliti ingin mengetahui pengaruh kualitas layanan terhadap loyalitas pelanggan. Secara teori, kualitas layanan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan. Kepuasan tersebut kemudian dapat berkaitan dengan loyalitas.

Dalam kondisi seperti itu, kepuasan pelanggan dapat dipertimbangkan sebagai variabel intervening. Peneliti kemudian menguji hubungan pada setiap jalur.

Sebaliknya, variabel intervening tidak diperlukan jika tidak ada dasar teori yang menjelaskan peran variabel perantara. Menambahkan variabel tanpa alasan dapat membuat penelitian menjadi lebih rumit.

Cara Menentukan Variabel Intervening

Menentukan variabel intervening sebaiknya dimulai dari hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Peneliti perlu memahami terlebih dahulu hubungan utama yang ingin diteliti.

Setelah itu, cari teori yang menjelaskan proses hubungan tersebut. Perhatikan apakah terdapat konsep yang dapat menjelaskan bagaimana X berkaitan dengan Y.

Langkah berikutnya adalah melihat penelitian terdahulu. Penelitian sebelumnya dapat memberikan gambaran mengenai variabel yang pernah digunakan sebagai perantara.

Terakhir, periksa apakah variabel tersebut dapat diukur. Variabel intervening harus memiliki indikator yang jelas dan dapat dikumpulkan datanya.

Dengan demikian, pemilihan variabel intervening tidak hanya berdasarkan dugaan. Ada dasar teori, bukti penelitian terdahulu, dan pertimbangan pengukuran.

Menentukan Variabel Intervening dari Masalah Penelitian

Masalah penelitian dapat menjadi titik awal untuk mencari variabel intervening. Peneliti perlu bertanya mengapa hubungan antara X dan Y dapat terjadi.

Misalnya, sebuah penelitian menemukan bahwa kualitas pelayanan berkaitan dengan loyalitas pelanggan. Peneliti kemudian bertanya, “Melalui proses apa hubungan tersebut dapat terjadi?”

Salah satu kemungkinan adalah kepuasan pelanggan. Kualitas pelayanan dapat berkaitan dengan kepuasan. Selanjutnya, kepuasan dapat berkaitan dengan loyalitas.

Pertanyaan seperti ini membantu peneliti menemukan kandidat variabel perantara. Namun, jawaban tersebut tetap perlu diperkuat dengan teori.

Menentukan Variabel Intervening dari Landasan Teori

Landasan teori menjadi dasar penting dalam menentukan variabel intervening. Teori membantu menjelaskan mekanisme hubungan yang ingin diuji.

Sebagai contoh, teori tertentu dapat menjelaskan bahwa pengalaman pelanggan memengaruhi kepuasan. Kepuasan kemudian berkaitan dengan loyalitas.

Jika penelitian ingin menguji hubungan tersebut, peneliti dapat menyusun model yang menempatkan kepuasan sebagai variabel intervening. Hubungan tersebut kemudian diuji menggunakan data.

Penelitian terdahulu juga dapat membantu. Namun, hasil penelitian sebelumnya perlu disesuaikan dengan konteks penelitian yang sedang dilakukan.

Menentukan Variabel Intervening dari Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir dapat digunakan untuk menggambarkan posisi variabel intervening. Bentuk sederhananya adalah:

X → Z → Y

X merupakan variabel independen. Z merupakan variabel intervening. Y merupakan variabel dependen.

Misalnya:

Kualitas Pelayanan → Kepuasan Pelanggan → Loyalitas Pelanggan

Model tersebut menunjukkan bahwa kepuasan pelanggan ditempatkan sebagai perantara. Artinya, peneliti ingin melihat apakah kualitas pelayanan berkaitan dengan kepuasan. Selanjutnya, peneliti melihat apakah kepuasan berkaitan dengan loyalitas.

Kerangka seperti ini membuat hubungan antarvariabel lebih mudah dipahami. Selain itu, kerangka tersebut dapat menjadi dasar dalam menyusun hipotesis.

Contoh Variabel Intervening dalam Penelitian

Contoh pertama dapat ditemukan dalam bidang manajemen. Peneliti dapat menguji pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas pelanggan dengan kepuasan pelanggan sebagai variabel intervening.

Contoh kedua berasal dari bidang pendidikan. Penelitian dapat membahas pengaruh fasilitas belajar terhadap hasil belajar melalui motivasi belajar. Dalam model tersebut, fasilitas belajar menjadi X, motivasi belajar menjadi Z, dan hasil belajar menjadi Y.

Contoh lainnya dapat ditemukan dalam penelitian tentang lingkungan kerja. Peneliti dapat menguji hubungan antara lingkungan kerja dan kinerja karyawan melalui kepuasan kerja.

Berikut beberapa contoh model sederhana.

Variabel Bebas (X)Variabel Intervening (Z)Variabel Terikat (Y)
Kualitas pelayananKepuasan pelangganLoyalitas pelanggan
Fasilitas belajarMotivasi belajarHasil belajar
Lingkungan kerjaKepuasan kerjaKinerja karyawan
PromosiKeputusan pembelianLoyalitas pelanggan
Pelatihan kerjaKompetensiKinerja karyawan

Contoh tersebut hanya menunjukkan kemungkinan model penelitian. Peneliti tetap perlu membuktikan relevansinya melalui teori dan penelitian terdahulu.

Hubungan Langsung dan Tidak Langsung

Dalam model intervening, peneliti dapat membedakan hubungan langsung dan hubungan tidak langsung. Perbedaan ini penting ketika hasil analisis mulai ditafsirkan.

Hubungan langsung menggambarkan hubungan X dengan Y tanpa melalui Z. Sementara itu, hubungan tidak langsung menggambarkan jalur X menuju Y melalui variabel intervening.

Misalnya terdapat model kualitas pelayanan, kepuasan pelanggan, dan loyalitas pelanggan. Peneliti dapat melihat hubungan kualitas pelayanan dengan loyalitas secara langsung. Peneliti juga dapat melihat hubungan kualitas pelayanan dengan loyalitas melalui kepuasan.

Dengan cara tersebut, analisis dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap. Peneliti dapat mengetahui apakah variabel perantara memiliki peran dalam jalur hubungan yang diuji.

Menyusun Hipotesis Variabel Intervening

Hipotesis penelitian perlu disusun berdasarkan hubungan yang terdapat dalam model. Karena terdapat variabel intervening, hipotesis biasanya mencakup beberapa jalur.

Misalnya model penelitian terdiri dari kualitas pelayanan, kepuasan pelanggan, dan loyalitas pelanggan. Hipotesis dapat membahas hubungan kualitas pelayanan dengan kepuasan. Hipotesis lainnya dapat membahas hubungan kepuasan dengan loyalitas.

Peneliti juga dapat menguji hubungan kualitas pelayanan dengan loyalitas. Selanjutnya, jalur tidak langsung melalui kepuasan dapat dianalisis.

Dengan demikian, hipotesis perlu mengikuti struktur model penelitian. Setiap hubungan harus memiliki dasar teori yang jelas.

Cara Menguji Variabel Intervening

Pengujian variabel intervening membutuhkan analisis yang sesuai dengan model penelitian. Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah analisis mediasi.

Analisis mediasi bertujuan melihat apakah hubungan antara X dan Y berlangsung melalui Z. Peneliti dapat menguji beberapa jalur hubungan dalam model.

Dalam praktiknya, analisis dapat dilakukan menggunakan regresi atau metode statistik lain yang sesuai. Peneliti juga dapat menggunakan analisis jalur atau pendekatan berbasis structural equation modeling apabila desain dan datanya mendukung.

Pemilihan metode harus mempertimbangkan tujuan penelitian, jenis data, ukuran sampel, dan asumsi analisis. Karena itu, peneliti perlu memahami metode yang digunakan sebelum melakukan pengujian.

Memahami Efek Tidak Langsung

Efek tidak langsung merupakan bagian penting dalam analisis variabel intervening. Efek ini menggambarkan hubungan X terhadap Y yang melewati variabel Z.

Secara sederhana, jalurnya dapat ditulis sebagai:

X → Z → Y

Misalnya kualitas pelayanan berkaitan dengan kepuasan pelanggan. Kemudian, kepuasan pelanggan berkaitan dengan loyalitas.

Jika kedua jalur tersebut didukung oleh hasil analisis, peneliti dapat membahas adanya jalur tidak langsung. Namun, kesimpulan tetap harus dibuat berdasarkan metode pengujian yang digunakan.

Peneliti juga perlu memperhatikan ukuran efek dan ketidakpastian hasil. Dengan demikian, interpretasi tidak hanya bergantung pada satu nilai statistik.

Memahami Mediasi Penuh dan Sebagian

Dalam pembahasan mediasi, peneliti dapat menemukan kondisi ketika variabel intervening menjelaskan seluruh atau sebagian hubungan antara X dan Y. Istilah yang sering digunakan adalah mediasi penuh dan mediasi sebagian.

Mediasi penuh menggambarkan kondisi ketika hubungan utama X terhadap Y tidak lagi terlihat setelah jalur melalui Z diperhitungkan, sesuai kriteria dan metode pengujian yang digunakan. Sementara itu, mediasi sebagian menunjukkan bahwa jalur langsung dan jalur melalui Z masih dapat muncul dalam model.

Namun, istilah tersebut harus digunakan dengan hati-hati. Kesimpulan mengenai mediasi perlu mengikuti prosedur analisis yang tepat dan tidak cukup hanya berdasarkan perubahan nilai signifikansi.

Pendekatan modern dalam analisis mediasi juga dapat menggunakan interval kepercayaan untuk efek tidak langsung. Karena itu, peneliti perlu mengikuti metode yang sesuai dengan rancangan analisisnya.

Menentukan Indikator Variabel Intervening

Variabel intervening tetap harus memiliki indikator yang jelas. Posisi sebagai variabel perantara tidak membuatnya berbeda dari variabel lain dalam hal kebutuhan pengukuran.

Misalnya, kepuasan pelanggan menjadi variabel intervening. Peneliti perlu menentukan indikator kepuasan berdasarkan teori yang relevan.

Indikator tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam instrumen penelitian. Dengan begitu, data mengenai variabel intervening dapat dikumpulkan dan dianalisis.

Pemilihan indikator harus konsisten dengan definisi konseptual. Jangan menggunakan indikator hanya karena mudah dibuat jika tidak sesuai dengan konsep yang diteliti.

Kesalahan yang Sering Dilakukan

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menambahkan variabel intervening tanpa dasar teori. Peneliti terkadang memilih variabel hanya karena terlihat cocok dengan topik.

Kesalahan berikutnya adalah menganggap setiap variabel yang berada di tengah diagram otomatis menjadi variabel intervening. Posisi dalam gambar belum cukup untuk menentukan fungsi variabel.

Peneliti juga dapat keliru ketika membedakan mediasi dan hubungan langsung. Hubungan X dengan Y tidak otomatis membuktikan bahwa Z menjadi perantara.

Kesalahan lainnya adalah menggunakan istilah mediasi hanya berdasarkan nilai signifikansi. Analisis intervening membutuhkan pemeriksaan jalur dan efek tidak langsung secara tepat.

cara menentukan variabel intervening

Tips Praktis Menentukan Variabel Intervening

Cara paling mudah untuk memulai adalah memahami hubungan utama dalam penelitian. Setelah itu, tanyakan proses apa yang mungkin menjelaskan hubungan tersebut.

Selanjutnya, cari teori yang dapat mendukung proses tersebut. Peneliti juga dapat membandingkan beberapa penelitian terdahulu untuk menemukan pola yang relevan.

Beberapa langkah berikut dapat membantu proses penentuan variabel intervening:

  • Tentukan variabel bebas dan variabel terikat terlebih dahulu.
  • Identifikasi hubungan utama antara X dan Y.
  • Cari teori yang menjelaskan mekanisme hubungan.
  • Temukan kandidat variabel perantara.
  • Periksa penelitian terdahulu.
  • Pastikan kandidat tersebut dapat diukur.
  • Susun indikator berdasarkan teori.
  • Buat kerangka berpikir.
  • Susun hipotesis sesuai jalur hubungan.
  • Pilih metode analisis yang sesuai.

Setelah itu, periksa kembali model penelitian. Pastikan setiap hubungan memiliki alasan teoritis dan dapat diuji dengan data yang tersedia.

Perbedaan Variabel Intervening dan Moderating

Variabel intervening sering tertukar dengan variabel moderating. Padahal, keduanya memiliki fungsi yang berbeda dalam model penelitian.

Variabel intervening menjelaskan bagaimana atau melalui proses apa hubungan X dan Y dapat terjadi. Sementara itu, variabel moderating berkaitan dengan kondisi yang dapat mengubah kekuatan atau arah hubungan antara X dan Y.

Sebagai contoh, kepuasan pelanggan dapat menjadi variabel intervening dalam hubungan kualitas pelayanan dan loyalitas. Sementara itu, usia atau pengalaman pelanggan dapat menjadi moderator jika terdapat dasar teori bahwa faktor tersebut mengubah kekuatan hubungan.

Perbedaan fungsi tersebut perlu dipahami sebelum menyusun model. Kesalahan klasifikasi dapat menyebabkan teknik analisis yang digunakan tidak sesuai.

Rekomendasi Penerapan untuk Skripsi dan Tesis

Dalam skripsi atau tesis, variabel intervening sebaiknya digunakan jika memang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Model yang lebih kompleks belum tentu lebih sesuai.

Peneliti perlu memastikan bahwa variabel perantara memiliki landasan teori yang kuat. Selain itu, indikatornya juga harus dapat diukur dengan instrumen yang sesuai.

Pada bagian metode, jelaskan posisi setiap variabel secara konsisten. Gunakan istilah yang sama mulai dari judul, rumusan masalah, kerangka berpikir, hipotesis, hingga pembahasan.

Kemudian, jelaskan hasil analisis berdasarkan jalur yang diuji. Jangan hanya menyebutkan bahwa variabel intervening “berpengaruh”. Jelaskan pula hubungan langsung dan tidak langsung sesuai hasil analisis.

Pentingnya Memahami Model Penelitian

Model penelitian dengan variabel intervening dapat memberikan penjelasan yang lebih mendalam mengenai hubungan antarvariabel. Peneliti tidak hanya melihat apakah X berkaitan dengan Y. Peneliti juga dapat mempelajari proses yang mungkin berada di antara keduanya.

Namun, model tersebut membutuhkan perencanaan yang lebih teliti. Setiap variabel harus memiliki dasar teori, indikator, dan data yang memadai.

Oleh sebab itu, peneliti perlu menyusun model secara bertahap. Mulailah dari masalah penelitian. Kemudian, tentukan hubungan utama dan cari variabel yang dapat menjelaskan mekanisme hubungan tersebut.

Dengan pendekatan tersebut, penggunaan variabel intervening menjadi lebih terarah. Model penelitian juga akan lebih mudah dijelaskan kepada pembaca.

Baca Juga: Pengaruh Variabel Bebas terhadap Variabel Terikat dalam Penelitian Kuantitatif

Kesimpulan

Variabel intervening merupakan variabel yang ditempatkan di antara variabel bebas dan variabel terikat untuk menjelaskan mekanisme atau proses hubungan. Dalam model sederhana, hubungan tersebut dapat digambarkan sebagai X → Z → Y.

Cara menentukan variabel intervening dapat dimulai dengan memahami hubungan utama antara X dan Y. Selanjutnya, peneliti perlu mencari teori, meninjau penelitian terdahulu, menentukan kandidat variabel perantara, dan memastikan variabel tersebut dapat diukur.

Setelah model terbentuk, peneliti dapat menyusun kerangka berpikir dan hipotesis. Pengujian kemudian dilakukan dengan metode analisis yang sesuai untuk melihat hubungan langsung dan tidak langsung. Hasilnya harus ditafsirkan berdasarkan data, metode, serta batasan penelitian.

Pemahaman mengenai variabel intervening juga membantu peneliti membedakan konsep mediasi dari variabel moderating. Dengan demikian, model penelitian dapat disusun secara lebih tepat dan tidak sekadar menjadi diagram yang kompleks.

Bagi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, tesis, jurnal, atau penelitian dan masih mengalami kesulitan menentukan variabel intervening, menyusun model mediasi, memilih indikator, maupun menentukan teknik analisis, konsultasi akademik dapat membantu meninjau hubungan antarvariabel secara sistematis. Pendampingan tersebut dapat membantu memastikan model penelitian, instrumen, dan analisis data tetap sesuai dengan tujuan serta kaidah penelitian ilmiah.

Kontak Sekarang

Daftar Jurnal

Latest Post

This will close in 20 seconds