Cara merevisi artikel jurnal dari tesis setelah mendapat masukan reviewer merupakan tahap penting dalam proses publikasi ilmiah. Bagi mahasiswa yang baru pertama kali mengirimkan artikel, komentar reviewer terkadang terasa membingungkan, terutama ketika revisi menyentuh teori, metode penelitian, analisis data, hingga cara menjelaskan hasil penelitian.
Padahal, reviewer memberikan masukan bukan selalu karena penelitian dianggap buruk. Dalam banyak kasus, komentar tersebut bertujuan membantu penulis memperjelas argumentasi, memperkuat bukti, memperbaiki analisis, dan membuat artikel lebih sesuai dengan standar jurnal. Karena itu, revisi sebaiknya dipandang sebagai bagian dari proses akademik, bukan sekadar kewajiban agar artikel diterima.
Artikel yang berasal dari tesis membutuhkan perhatian tambahan. Tesis biasanya memiliki pembahasan yang lebih panjang, sedangkan artikel jurnal harus lebih fokus. Ketika reviewer memberikan komentar, penulis perlu memperbaiki manuskrip tanpa menghilangkan inti penelitian tesis dan tetap menjaga konsistensi antara tujuan, metode, hasil, serta kesimpulan.

Memahami Arti Masukan Reviewer
Sebelum mulai mengedit manuskrip, pahami terlebih dahulu jenis komentar yang diberikan. Jangan langsung mengubah seluruh artikel hanya berdasarkan kesan pertama setelah membaca hasil review.
Komentar reviewer dapat berkaitan dengan masalah substansial maupun teknis. Masalah substansial biasanya menyangkut research gap, teori, metodologi, analisis, interpretasi hasil, atau kontribusi penelitian. Sementara itu, komentar teknis dapat berupa perbaikan struktur kalimat, format tabel, referensi, judul, atau gaya penulisan.
Perhatikan juga keputusan editor. Istilah seperti minor revision, major revision, revise and resubmit, atau decision in principle dapat memiliki konsekuensi berbeda tergantung kebijakan jurnal. Instruksi editor sebaiknya menjadi dasar utama dalam menentukan prioritas revisi.
Jika reviewer memberikan banyak komentar, jangan menganggap semuanya harus diselesaikan dengan cara yang sama. Kelompokkan komentar agar proses revisi menjadi lebih sistematis.
Baca Juga: 100+ Jurnal Terindeks Scopus Gratis Bidang Ilmu Lingkungan
Baca Reviewer secara Objektif
Respons pertama terhadap kritik reviewer terkadang bersifat emosional. Penulis mungkin merasa penelitiannya sudah benar karena telah melalui proses tesis, bimbingan, dan ujian. Namun, perspektif reviewer dapat berbeda karena artikel dinilai sebagai publikasi ilmiah untuk pembaca yang lebih luas.
Reviewer tidak selalu mengetahui seluruh konteks yang terdapat dalam tesis. Informasi yang dianggap sudah jelas bagi penulis mungkin justru belum cukup dijelaskan dalam artikel.
Karena itu, ketika reviewer mengatakan bahwa metode kurang jelas, jangan langsung beranggapan bahwa reviewer tidak memahami penelitian. Pertanyaan tersebut dapat menjadi tanda bahwa penjelasan dalam manuskrip memang perlu diperkuat.
Sikap objektif akan membantu penulis menemukan inti persoalan. Setelah memahami maksud komentar, barulah tentukan apakah manuskrip perlu ditambahkan informasi, disusun ulang, dianalisis kembali, atau cukup diperjelas secara bahasa.
Kelompokkan Masukan Sebelum Melakukan Revisi
Merevisi artikel secara acak dapat membuat perubahan menjadi tidak konsisten. Sebaiknya semua komentar dicatat dalam satu dokumen kerja sebelum proses editing dimulai.
Pengelompokan juga membantu menentukan komentar mana yang membutuhkan perubahan besar dan mana yang hanya memerlukan penyuntingan ringan. Dengan cara ini, penulis dapat menghemat waktu dan memastikan tidak ada masukan yang terlewat.
Secara praktis, komentar reviewer dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori:
- Substansi penelitian, seperti research gap, novelty, teori, hipotesis, metode, analisis, dan interpretasi hasil.
- Struktur manuskrip, seperti pendahuluan yang terlalu panjang, pembahasan yang kurang kuat, atau kesimpulan yang tidak menjawab tujuan penelitian.
- Teknis dan bahasa, seperti tata bahasa, format tabel, sitasi, daftar pustaka, istilah, dan kesalahan pengetikan.
Setelah komentar dikelompokkan, buat daftar tindakan untuk setiap poin. Misalnya, komentar tentang research gap berarti penulis perlu memperbaiki pendahuluan dan menambahkan literatur relevan. Komentar tentang interpretasi hasil mungkin membutuhkan revisi pada bagian pembahasan.
Periksa Kembali Artikel dengan Tesis
Karena artikel berasal dari tesis, jangan hanya membaca manuskrip jurnal. Bandingkan artikel dengan tesis dan data penelitian asli.
Langkah ini penting untuk memastikan revisi tidak menghasilkan informasi yang bertentangan dengan penelitian awal. Misalnya, reviewer meminta penjelasan tambahan mengenai metode sampling. Penulis perlu memeriksa kembali tesis untuk memastikan informasi yang ditambahkan benar-benar sesuai dengan prosedur penelitian.
Begitu pula dengan angka statistik. Jika reviewer meminta penjelasan mengenai hasil uji tertentu, jangan mengubah angka hanya karena hasilnya dianggap kurang menarik. Periksa kembali output analisis dan pastikan interpretasi sesuai dengan data.
Tesis dapat berfungsi sebagai dokumen rujukan internal ketika merevisi artikel. Namun, bukan berarti seluruh isi tesis perlu dimasukkan kembali ke dalam manuskrip.
Memperbaiki Research Gap dan Novelty
Salah satu alasan reviewer meminta revisi adalah karena kontribusi artikel belum terlihat jelas. Hal ini sering terjadi pada artikel yang berasal dari tesis karena penulis terlalu fokus menceritakan proses penelitian.
Research gap harus menunjukkan apa yang belum cukup dijelaskan oleh penelitian terdahulu. Sementara itu, novelty menjelaskan nilai tambah yang diberikan penelitian terhadap pengetahuan yang sudah ada.
Jika reviewer meminta research gap diperjelas, jangan sekadar menambahkan kalimat “penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya”. Tunjukkan perbedaannya secara konkret.
Misalnya, penelitian terdahulu hanya menguji hubungan antara variabel X dan Y pada perusahaan besar. Penelitian baru menguji hubungan yang sama pada UMKM dengan konteks digitalisasi tertentu. Perbedaan konteks tersebut perlu dijelaskan dan dihubungkan dengan alasan mengapa penelitian baru diperlukan.
Dengan demikian, revisi pendahuluan bukan sekadar menambah referensi, tetapi memperbaiki alur argumentasi.
Memperbarui Literatur yang Digunakan
Reviewer dapat meminta penulis menambahkan penelitian terdahulu yang lebih relevan atau lebih mutakhir. Permintaan tersebut sebaiknya tidak dipahami sebagai kewajiban menambahkan sebanyak mungkin referensi.
Yang lebih penting adalah kualitas dan relevansinya. Cari penelitian yang benar-benar berkaitan dengan variabel, teori, metode, konteks, atau masalah yang dibahas.
Literatur terbaru dapat membantu menunjukkan perkembangan bidang penelitian. Namun, teori dasar atau karya klasik tetap dapat digunakan jika memang menjadi fondasi konseptual penelitian.
Setiap referensi baru harus memiliki fungsi. Jangan memasukkan artikel hanya untuk meningkatkan jumlah daftar pustaka. Referensi yang tidak digunakan dalam argumentasi justru dapat membuat manuskrip terlihat kurang terarah.
Merevisi Bagian Metode Penelitian
Komentar mengenai metode harus ditangani dengan sangat hati-hati. Reviewer perlu mengetahui bagaimana penelitian dilakukan agar dapat menilai validitas hasil.
Jika reviewer meminta penjelasan mengenai sampel, tambahkan informasi yang relevan seperti kriteria pemilihan responden, teknik sampling, jumlah sampel, periode pengumpulan data, atau alasan penggunaan metode tertentu.
Untuk penelitian kuantitatif, penulis juga perlu memastikan definisi operasional variabel dan instrumen dijelaskan dengan cukup. Jika menggunakan SEM-PLS, misalnya, artikel dapat menjelaskan prosedur evaluasi model pengukuran dan model struktural sesuai dengan pendekatan yang digunakan.
Untuk penelitian kualitatif, reviewer mungkin meminta penjelasan mengenai pemilihan informan, teknik pengumpulan data, proses coding, triangulasi, atau prosedur memastikan kredibilitas data.
Jangan menambahkan prosedur yang sebenarnya tidak dilakukan. Revisi bertujuan memperjelas penelitian, bukan menciptakan metode baru setelah penelitian selesai.
Menanggapi Kritik terhadap Analisis Data
Jika reviewer mempertanyakan analisis data, kembali ke tujuan penelitian dan metode yang digunakan. Pastikan teknik analisis memang sesuai dengan pertanyaan penelitian dan karakteristik data.
Misalnya, reviewer mempertanyakan mengapa penulis menggunakan regresi linear untuk menguji hubungan tertentu. Jangan hanya menjawab bahwa metode tersebut digunakan karena tercantum dalam tesis. Jelaskan alasan metodologisnya berdasarkan tujuan penelitian, jenis variabel, dan karakteristik data.
Jika memang terdapat kesalahan analisis, lakukan pemeriksaan dan perhitungan ulang. Dalam kondisi tertentu, revisi dapat mengharuskan penulis menjalankan kembali analisis menggunakan prosedur yang lebih sesuai.
Yang paling penting adalah menjaga integritas penelitian. Jangan mengubah metode hanya untuk mendapatkan hasil yang lebih signifikan atau sesuai dengan hipotesis.
Memperkuat Bagian Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian dan pembahasan sering menjadi sasaran komentar reviewer. Penyebabnya adalah penulis terkadang hanya melaporkan angka tanpa menjelaskan maknanya.
Hasil menjawab apa yang ditemukan. Pembahasan menjelaskan mengapa temuan tersebut penting dan bagaimana hasil tersebut berhubungan dengan teori serta penelitian sebelumnya.
Jika reviewer mengatakan pembahasan terlalu deskriptif, tambahkan interpretasi yang lebih mendalam. Hubungkan temuan dengan penelitian terdahulu dan jelaskan apakah hasil mendukung, memperluas, atau berbeda dari penelitian sebelumnya.
Jika hasil berbeda dengan penelitian terdahulu, jangan menganggapnya sebagai kelemahan yang harus disembunyikan. Perbedaan dapat menjadi temuan penting selama penulis mampu memberikan penjelasan akademik yang masuk akal.

Merevisi Kesimpulan Tanpa Mengulang Hasil
Kesimpulan seharusnya menjawab tujuan penelitian dan menunjukkan implikasi utama. Bagian ini bukan tempat untuk menyalin kembali seluruh hasil analisis.
Jika reviewer meminta kesimpulan diperbaiki, periksa apakah bagian tersebut sudah menjawab pertanyaan penelitian. Kesimpulan juga dapat memuat implikasi teoretis dan praktis jika sesuai dengan karakter jurnal.
Hindari memasukkan informasi baru yang tidak pernah dibahas sebelumnya. Kesimpulan harus dibangun dari hasil dan pembahasan yang sudah disajikan.
Bagi artikel yang berasal dari tesis, bagian kesimpulan biasanya perlu dibuat lebih ringkas. Tidak semua rekomendasi yang terdapat dalam tesis harus dipertahankan dalam artikel.
Membuat Response to Reviewers
Selain memperbaiki manuskrip, penulis biasanya perlu membuat dokumen tanggapan terhadap reviewer. Dokumen ini sangat penting karena menunjukkan bagaimana setiap komentar ditangani.
Response letter sebaiknya disusun secara sistematis. Tampilkan komentar reviewer, kemudian berikan respons penulis dan jelaskan perubahan yang telah dilakukan.
Jangan hanya menulis “sudah diperbaiki”. Reviewer perlu mengetahui bagian mana yang diubah dan apa yang diperbaiki.
Contohnya, jika reviewer meminta penjelasan mengenai pemilihan sampel, respons dapat menjelaskan bahwa informasi mengenai kriteria sampel telah ditambahkan pada bagian metode. Jika sistem jurnal menggunakan nomor halaman atau baris, tunjukkan lokasi perubahan secara spesifik.
Bagaimana Jika Tidak Setuju dengan Reviewer?
Tidak semua komentar reviewer harus diterima tanpa pertimbangan. Penulis dapat tidak menyetujui suatu saran jika terdapat alasan akademik yang kuat.
Namun, ketidaksetujuan harus disampaikan dengan sopan dan berbasis bukti. Hindari kalimat yang menyudutkan reviewer atau mempertanyakan kompetensinya.
Misalnya, penulis dapat menjelaskan bahwa metode tertentu dipertahankan karena sesuai dengan desain penelitian dan didukung oleh referensi metodologis. Jelaskan alasan tersebut secara singkat dan tambahkan sumber yang relevan jika diperlukan.
Tujuan response letter bukan memenangkan perdebatan. Tujuannya adalah menunjukkan bahwa setiap komentar telah dipertimbangkan secara serius.
Contoh Kasus Revisi Artikel dari Tesis
Misalnya seorang mahasiswa mengirim artikel berdasarkan tesis mengenai pengaruh kualitas layanan terhadap loyalitas pelanggan. Reviewer memberikan komentar bahwa pendahuluan belum menunjukkan dengan jelas mengapa penelitian tersebut penting.
Mahasiswa kemudian kembali membaca tesis dan menemukan beberapa penelitian terdahulu yang menunjukkan hasil berbeda mengenai hubungan kedua variabel. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk memperkuat research gap.
Reviewer juga meminta penjelasan mengapa responden dipilih menggunakan teknik tertentu. Mahasiswa menambahkan kriteria responden, alasan pemilihan teknik sampling, dan periode pengumpulan data berdasarkan informasi yang memang terdapat dalam penelitian asli.
Pada bagian pembahasan, reviewer meminta hasil penelitian dibandingkan dengan studi sebelumnya. Mahasiswa kemudian menambahkan beberapa penelitian relevan dan menjelaskan kemungkinan penyebab kesamaan maupun perbedaan hasil.
Setelah semua perubahan dilakukan, mahasiswa menyusun response letter yang menjelaskan setiap revisi. Dengan pendekatan tersebut, revisi tidak hanya mengubah kalimat, tetapi meningkatkan kualitas argumentasi artikel secara keseluruhan.
Kesalahan yang Sering Dilakukan
Proses revisi dapat menjadi lebih sulit jika penulis hanya mengejar perubahan sebanyak mungkin tanpa memahami maksud reviewer. Beberapa kesalahan juga dapat menimbulkan masalah baru pada manuskrip.
Beberapa hal yang sebaiknya dihindari adalah:
- Mengabaikan sebagian komentar reviewer. Setiap komentar perlu ditanggapi, meskipun responsnya berupa alasan akademik mengapa perubahan tidak dilakukan.
- Mengubah data tanpa dasar. Revisi tidak boleh menjadi alasan untuk memanipulasi hasil penelitian.
- Menambahkan referensi secara berlebihan. Referensi harus relevan dengan argumen yang dibangun.
- Tidak memperbarui response letter. Dokumen tanggapan harus sesuai dengan perubahan terakhir pada manuskrip.
- Menanggapi reviewer secara emosional. Gunakan bahasa profesional meskipun penulis tidak sepakat dengan komentar.
- Lupa memeriksa konsistensi. Perubahan metode atau hasil dapat memengaruhi pembahasan dan kesimpulan.
Kesalahan tersebut sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan pemeriksaan akhir setelah seluruh revisi selesai.
Tips Praktis agar Revisi Lebih Efektif
Revisi yang baik membutuhkan strategi, bukan sekadar waktu. Penulis sebaiknya membuat jadwal dan mengerjakan komentar berdasarkan tingkat kesulitannya.
Mulailah dari komentar yang paling substantif. Setelah bagian utama selesai, lanjutkan ke perbaikan struktur, referensi, bahasa, dan format.
Sebelum mengirim kembali manuskrip, lakukan pemeriksaan silang antara artikel dan response letter. Pastikan setiap perubahan yang disebutkan benar-benar sudah terdapat dalam dokumen revisi.
Beberapa kebiasaan berikut juga dapat membantu:
- Simpan versi awal dan versi revisi secara terpisah.
- Gunakan fitur track changes jika diminta jurnal.
- Buat daftar seluruh komentar reviewer.
- Tandai komentar yang sudah diselesaikan.
- Periksa kembali tabel, angka, sitasi, dan kesimpulan setelah perubahan besar.
- Baca manuskrip secara utuh setelah revisi, bukan hanya bagian yang diubah.
Dengan cara tersebut, artikel akan terasa sebagai satu kesatuan, bukan kumpulan paragraf yang ditempelkan untuk menjawab komentar reviewer.
Menjaga Konsistensi antara Tesis dan Artikel
Artikel yang berasal dari tesis tidak harus identik dengan dokumen tesis. Justru, artikel perlu disesuaikan dengan kebutuhan publikasi. Namun, perubahan tersebut tidak boleh mengubah fakta penelitian secara sembarangan.
Jika reviewer meminta tambahan analisis, pastikan analisis tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan dijelaskan secara transparan. Jika ada perubahan signifikan terhadap interpretasi, periksa apakah kesimpulan juga harus disesuaikan.
Perhatikan pula istilah dan angka yang digunakan. Misalnya, jumlah responden dalam abstrak, metode, tabel, dan pembahasan harus konsisten.
Konsistensi menjadi semakin penting ketika artikel ditulis bersama pembimbing atau anggota tim penelitian. Setiap penulis perlu memeriksa versi akhir sebelum submission ulang.
Rekomendasi Penerapan
Mahasiswa yang sedang merevisi artikel dari tesis sebaiknya tidak terburu-buru mengirimkan versi baru hanya karena batas waktu revisi sudah dekat. Kualitas respons terhadap reviewer jauh lebih penting daripada sekadar mengirim manuskrip secepat mungkin.
Jika komentar menyentuh analisis statistik, metodologi, atau interpretasi hasil, lakukan pemeriksaan mendalam sebelum melakukan perubahan. Konsultasikan kembali dengan pembimbing atau anggota tim penelitian jika keputusan revisi dapat memengaruhi kesimpulan utama.
Untuk mahasiswa yang merasa kesulitan memetakan komentar reviewer dengan isi tesis, pendampingan akademik juga dapat membantu. Layanan konsultasi seperti ruangjurnal.com dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendiskusikan struktur artikel, strategi revisi, analisis data, maupun persiapan response to reviewers secara lebih sistematis.
Pendampingan tersebut sebaiknya digunakan sebagai sarana evaluasi dan pembelajaran. Penulis tetap perlu memahami isi penelitian serta bertanggung jawab terhadap setiap perubahan yang dilakukan pada manuskrip.
Baca Juga: Kapan Dosen Pembimbing Perlu Dicantumkan sebagai Penulis Artikel Tesis?
Kesimpulan
Cara merevisi artikel jurnal dari tesis setelah mendapat masukan reviewer sebaiknya dilakukan secara sistematis. Langkah pertama adalah memahami komentar, mengelompokkannya berdasarkan substansi dan teknis, kemudian mencocokkannya dengan tesis serta data penelitian asli.
Perbaikan dapat mencakup research gap, literatur, metode, analisis data, hasil, pembahasan, hingga kesimpulan. Setiap perubahan harus memiliki dasar akademik dan tidak boleh mengubah atau memanipulasi data hanya demi memenuhi harapan reviewer.
Selain memperbaiki manuskrip, penulis perlu menyusun response to reviewers yang jelas. Setiap komentar harus ditanggapi secara profesional, baik ketika penulis menerima saran maupun ketika memiliki alasan akademik untuk mempertahankan pendekatan tertentu.
Pada akhirnya, revisi reviewer merupakan bagian penting dari perjalanan publikasi ilmiah. Dengan sikap terbuka, dokumentasi yang rapi, argumentasi yang kuat, serta pemeriksaan akhir yang teliti, artikel yang berasal dari tesis dapat berkembang menjadi manuskrip yang lebih matang, fokus, dan layak diterbitkan.
Bagi Anda yang sedang mempersiapkan artikel ilmiah bidang teknik, membutuhkan bantuan analisis data, proofreading akademik, pengecekan similarity, penerjemahan artikel, pemilihan jurnal target, hingga pendampingan submit jurnal Scopus, layanan konsultasi akademik profesional dapat membantu meningkatkan kualitas manuskrip sekaligus memperbesar peluang publikasi pada jurnal bereputasi internasional.










