Informan penelitian merupakan salah satu unsur penting dalam penelitian deskriptif kualitatif. Melalui informan, peneliti dapat memperoleh informasi mengenai pengalaman, pandangan, perilaku, proses, maupun kondisi yang berkaitan dengan fenomena yang sedang dikaji. Karena itu, keberadaan informan tidak sekadar berfungsi sebagai sumber jawaban wawancara, tetapi juga membantu peneliti memahami fenomena secara lebih mendalam.
Dalam penelitian deskriptif kualitatif, pemilihan informan perlu dilakukan secara terarah. Peneliti tidak cukup hanya mencari orang yang bersedia diwawancarai. Informan yang dipilih harus memiliki hubungan dengan fokus penelitian sehingga informasi yang diberikan dapat membantu menjawab rumusan masalah dan mencapai tujuan penelitian.
Pemilihan informan yang kurang tepat dapat menimbulkan berbagai persoalan. Data yang diperoleh mungkin terlalu umum, tidak sesuai dengan fokus, atau justru membuat pembahasan penelitian semakin luas. Sebaliknya, informan yang relevan dapat memberikan pengalaman dan informasi yang lebih kaya sehingga proses analisis menjadi lebih terarah.
Oleh karena itu, memahami pengertian informan penelitian deskriptif kualitatif, kriteria yang perlu diperhatikan, serta cara menentukan informan yang tepat menjadi bagian penting dalam perencanaan penelitian.

Pengertian Informan Penelitian Deskriptif Kualitatif
Informan penelitian adalah orang atau pihak yang memberikan informasi kepada peneliti mengenai fenomena yang sedang diteliti. Informasi tersebut dapat berasal dari pengalaman langsung, pengetahuan, keterlibatan, pengamatan, maupun pemahaman informan terhadap suatu kondisi.
Dalam penelitian deskriptif kualitatif, informan biasanya dipilih karena dianggap mampu memberikan informasi yang sesuai dengan fokus penelitian. Peneliti kemudian menggali informasi tersebut melalui wawancara, observasi, dokumentasi, atau teknik pengumpulan data lainnya.
Sebagai contoh, penelitian membahas pengalaman guru dalam menggunakan media pembelajaran digital. Informan yang sesuai adalah guru yang memang menggunakan media tersebut dalam kegiatan pembelajaran. Guru yang belum pernah menggunakannya mungkin memiliki pendapat mengenai teknologi, tetapi tidak dapat memberikan pengalaman langsung yang menjadi fokus penelitian.
Hal tersebut menunjukkan bahwa informan tidak dipilih secara acak tanpa pertimbangan. Kesesuaian pengalaman dan pengetahuan informan dengan fenomena penelitian menjadi salah satu dasar utama dalam proses pemilihan.
Baca Juga: 100+ Jurnal Terindeks Scopus Gratis Bidang Ilmu Lingkungan
Peran Informan dalam Penelitian Deskriptif Kualitatif
Informan memiliki peran penting karena penelitian kualitatif berusaha memahami fenomena berdasarkan perspektif pihak yang terlibat di dalamnya. Informasi dari informan dapat membantu peneliti memperoleh gambaran yang lebih dekat dengan kondisi nyata di lapangan.
Informan juga dapat memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang tidak selalu dapat diketahui hanya melalui observasi. Misalnya, peneliti dapat melihat seseorang menggunakan sebuah aplikasi, tetapi alasan, pengalaman, kesulitan, dan pertimbangan di balik penggunaan tersebut mungkin hanya dapat diketahui melalui percakapan dengan pengguna.
Selain itu, informan dapat membantu peneliti memahami konteks suatu fenomena. Sebuah perilaku yang terlihat sederhana mungkin memiliki alasan tertentu yang tidak langsung terlihat dari luar.
Dengan demikian, informasi dari informan dapat menjadi dasar penting dalam menyusun deskripsi penelitian. Peneliti kemudian mengolah informasi tersebut melalui proses analisis data untuk menemukan tema atau gambaran yang sesuai dengan tujuan penelitian.
Hubungan Informan dengan Fokus Penelitian
Fokus penelitian merupakan batas utama yang menentukan aspek apa yang akan dikaji. Karena itu, informan juga perlu dipilih berdasarkan hubungannya dengan fokus tersebut.
Misalnya, penelitian memiliki topik “penggunaan media sosial dalam pemasaran UMKM”. Topik tersebut masih luas karena dapat mencakup berbagai platform, strategi, jenis usaha, dan pengalaman pengguna.
Peneliti kemudian menetapkan fokus menjadi “pengalaman pelaku UMKM dalam menggunakan Instagram sebagai media promosi”. Berdasarkan fokus tersebut, informan yang paling relevan adalah pemilik atau pengelola UMKM yang benar-benar menggunakan Instagram untuk kegiatan promosi.
Hubungan antara fokus dan informan dapat dilihat melalui pola berikut.
| Fokus penelitian | Informan yang sesuai | Informasi yang digali |
|---|---|---|
| Pengalaman guru menggunakan media digital | Guru pengguna media digital | Pengalaman, manfaat, dan kendala |
| Penggunaan perpustakaan digital | Mahasiswa pengguna | Pengalaman dan kemudahan akses |
| Promosi UMKM melalui Instagram | Pemilik atau pengelola akun | Strategi dan pengalaman promosi |
| Pelayanan publik berbasis digital | Pengguna layanan | Proses dan kendala penggunaan |
| Program literasi sekolah | Guru atau pengelola program | Pelaksanaan dan pengalaman program |
Semakin jelas fokus penelitian, semakin mudah pula peneliti menentukan pihak yang relevan sebagai informan.
Ciri-Ciri Informan yang Tepat
Informan yang tepat bukan berarti orang yang memberikan jawaban sesuai dengan harapan peneliti. Sebaliknya, informan yang tepat adalah pihak yang memiliki pengalaman atau pengetahuan relevan dan mampu memberikan informasi mengenai fenomena secara wajar.
Beberapa pertimbangan dapat digunakan untuk menilai kesesuaian seorang calon informan. Peneliti dapat melihat apakah orang tersebut memiliki pengalaman langsung, terlibat dalam kegiatan yang diteliti, memahami konteks penelitian, serta bersedia memberikan informasi yang diperlukan.
Peneliti juga perlu mempertimbangkan kemampuan informan dalam menjelaskan pengalaman. Informan tidak harus memiliki latar belakang akademik tertentu. Yang lebih penting adalah mereka benar-benar memahami atau mengalami fenomena yang menjadi fokus penelitian.
Kriteria tersebut perlu disesuaikan dengan topik. Informan penelitian tentang pengalaman pelanggan tentu memiliki karakteristik berbeda dengan informan penelitian mengenai pelaksanaan program pendidikan.
Menentukan Kriteria Informan Penelitian
Sebelum memilih informan, peneliti sebaiknya membuat kriteria yang jelas. Kriteria tersebut berfungsi sebagai batas agar pemilihan informan tidak dilakukan hanya berdasarkan kemudahan akses.
Misalnya, penelitian membahas pengalaman mahasiswa menggunakan aplikasi pembelajaran. Kriteria informan dapat mencakup mahasiswa yang aktif menggunakan aplikasi tersebut, pernah menggunakannya dalam kegiatan pembelajaran, dan memiliki pengalaman yang berkaitan dengan fokus penelitian.
Kriteria tersebut dapat dibuat berdasarkan beberapa unsur utama.
| Pertimbangan | Penjelasan |
|---|---|
| Pengalaman | Pernah mengalami fenomena yang diteliti |
| Keterlibatan | Terlibat langsung dalam kegiatan atau proses |
| Pengetahuan | Memahami kondisi yang berkaitan dengan objek penelitian |
| Relevansi | Informasi yang dimiliki sesuai dengan fokus |
| Kesediaan | Bersedia memberikan informasi untuk penelitian |
Kriteria tidak harus dibuat terlalu banyak. Terlalu banyak persyaratan justru dapat membuat peneliti kesulitan menemukan informan. Pilih kriteria yang benar-benar berhubungan dengan tujuan penelitian.
Teknik Menentukan Informan Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif menggunakan berbagai teknik untuk menentukan informan. Salah satu yang umum digunakan adalah purposive sampling. Melalui teknik ini, peneliti memilih informan berdasarkan pertimbangan tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian.
Purposive sampling cocok digunakan ketika peneliti sudah mengetahui karakteristik pihak yang dibutuhkan. Misalnya, penelitian memerlukan guru yang telah menggunakan platform pembelajaran tertentu selama proses belajar mengajar.
Teknik lain yang dapat digunakan adalah snowball sampling. Dalam teknik ini, peneliti memperoleh rekomendasi calon informan berikutnya dari informan yang telah diwawancarai sebelumnya. Cara tersebut dapat digunakan ketika calon informan sulit ditemukan atau berada dalam kelompok tertentu yang tidak mudah diakses.
Pemilihan teknik harus mengikuti kondisi penelitian. Peneliti perlu menjelaskan alasan penggunaan teknik tersebut agar pembaca memahami bagaimana informan diperoleh.
Informan Utama dan Informan Pendukung
Dalam penelitian tertentu, peneliti dapat membedakan informan utama dan informan pendukung. Pembagian ini membantu memperjelas kedudukan masing-masing sumber informasi.
Informan utama merupakan pihak yang memiliki pengalaman paling dekat dengan fenomena yang diteliti. Informasi dari kelompok ini biasanya menjadi sumber utama dalam menjawab fokus penelitian.
Informan pendukung memberikan informasi tambahan yang dapat memperjelas konteks atau melengkapi keterangan dari informan utama. Mereka tidak selalu harus memiliki pengalaman yang sama, tetapi informasinya tetap harus relevan.
Sebagai contoh, penelitian membahas penerapan program literasi di sekolah. Guru yang bertanggung jawab terhadap program dapat menjadi informan utama. Kepala sekolah atau siswa dapat menjadi informan pendukung jika perspektif mereka dibutuhkan untuk memahami pelaksanaan program.
Pembagian ini membuat peneliti lebih mudah menentukan prioritas ketika mengumpulkan dan menganalisis data.

Menentukan Jumlah Informan Penelitian
Jumlah informan merupakan salah satu hal yang sering dipertanyakan ketika menyusun penelitian kualitatif. Tidak ada satu angka yang secara otomatis berlaku untuk semua penelitian karena kebutuhan informan bergantung pada fokus, konteks, dan kedalaman informasi yang diperlukan.
Peneliti perlu memperhatikan kecukupan data. Artinya, informasi yang diperoleh harus mampu membantu menjawab pertanyaan penelitian dan memberikan gambaran yang memadai mengenai fenomena.
Dalam praktiknya, peneliti dapat memulai dengan sejumlah informan yang memenuhi kriteria. Setelah data dianalisis secara bertahap, peneliti dapat melihat apakah masih ada informasi penting yang belum terjelaskan.
Jika masih terdapat kekosongan informasi, informan tambahan dapat dipertimbangkan. Sebaliknya, jika informasi yang diperoleh sudah memadai, peneliti dapat melanjutkan proses analisis sesuai dengan rancangan penelitian.
Jadi, jumlah informan tidak sebaiknya ditentukan hanya untuk mengejar angka. Relevansi dan kecukupan informasi lebih penting daripada jumlah semata.
Contoh Menentukan Informan Berdasarkan Topik Penelitian
Agar lebih mudah dipahami, misalnya terdapat penelitian dengan topik “pengalaman siswa menggunakan platform pembelajaran digital”.
Jika topik tersebut belum dipersempit, calon informan dapat mencakup siswa, guru, orang tua, pengelola sekolah, bahkan pengembang teknologi. Kondisi ini berpotensi menghasilkan data yang sangat luas.
Peneliti kemudian menetapkan fokus pada “pengalaman siswa dalam menggunakan platform pembelajaran digital untuk mengerjakan tugas sekolah”. Fokus tersebut membuat calon informan lebih jelas.
Informan utama dapat berupa siswa yang aktif menggunakan platform tersebut untuk mengerjakan tugas. Guru dapat menjadi informan pendukung apabila peneliti ingin memahami konteks pemberian tugas melalui platform.
Dari contoh tersebut, terlihat bahwa pemilihan informan sebaiknya dilakukan setelah fokus penelitian cukup jelas. Dengan demikian, sumber data dapat benar-benar mendukung tujuan penelitian.
Menyesuaikan Informan dengan Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian menjelaskan hasil pemahaman yang ingin diperoleh. Karena itu, tujuan dapat digunakan untuk menguji kembali apakah calon informan sudah tepat.
Misalnya, tujuan penelitian adalah mendeskripsikan pengalaman pengguna terhadap suatu layanan. Informan harus berasal dari orang yang pernah menggunakan layanan tersebut.
Jika tujuan penelitian adalah memahami strategi pengelola dalam menjalankan suatu program, maka pihak yang terlibat dalam perencanaan atau pelaksanaan program lebih relevan dibandingkan orang yang hanya mengetahui program tersebut dari luar.
Cara sederhana untuk menguji kesesuaian informan adalah dengan menghubungkan tiga unsur: tujuan penelitian, informasi yang dibutuhkan, dan pihak yang memiliki informasi tersebut.
Jika ketiga unsur tersebut saling berhubungan, pemilihan informan memiliki dasar yang lebih kuat.
Menyusun Pedoman Wawancara Berdasarkan Informan
Setelah informan ditentukan, langkah berikutnya adalah menyusun pedoman wawancara. Pedoman ini sebaiknya tetap berhubungan dengan fokus penelitian dan karakteristik informan.
Pertanyaan untuk informan utama dapat dibuat lebih mendalam karena mereka memiliki pengalaman langsung terhadap fenomena. Sementara itu, pertanyaan untuk informan pendukung dapat diarahkan pada informasi kontekstual yang dibutuhkan.
Sebagai contoh, pada penelitian mengenai penggunaan aplikasi pembelajaran, siswa dapat ditanya mengenai pengalaman menggunakan fitur tertentu, kesulitan yang dialami, serta cara mereka menyelesaikan tugas melalui aplikasi.
Guru dapat ditanya mengenai tujuan penggunaan aplikasi, proses pemberian tugas, dan pengamatan terhadap penggunaan aplikasi oleh siswa. Dengan demikian, setiap informan memberikan informasi sesuai dengan posisi dan pengalamannya.
Menggunakan Lebih dari Satu Sumber Informasi
Penelitian kualitatif terkadang menggunakan beberapa sumber informasi untuk memperoleh pemahaman yang lebih lengkap. Cara ini dapat membantu peneliti melihat fenomena dari perspektif yang berbeda.
Sebagai contoh, penelitian mengenai pelayanan publik dapat melibatkan petugas dan pengguna layanan. Petugas dapat menjelaskan proses pelayanan dari sisi pelaksana, sedangkan pengguna dapat menceritakan pengalaman ketika menerima pelayanan.
Perbedaan informasi tidak selalu berarti salah satu informan keliru. Perbedaan tersebut dapat menjadi bagian dari fenomena yang perlu dipahami lebih lanjut.
Peneliti tetap perlu menjaga fokus agar penggunaan banyak informan tidak membuat penelitian menjadi terlalu luas. Setiap sumber informasi harus memiliki alasan yang jelas dan berkaitan dengan tujuan penelitian.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Memilih Informan
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memilih informan karena paling mudah dihubungi. Kemudahan akses memang dapat membantu proses penelitian, tetapi bukan menjadi alasan utama untuk menentukan informan.
Kesalahan berikutnya adalah menganggap jabatan sebagai satu-satunya indikator kelayakan informan. Orang dengan posisi tertentu belum tentu memiliki pengalaman langsung terhadap fenomena yang menjadi fokus penelitian.
Peneliti juga dapat melakukan kesalahan dengan menentukan terlalu banyak informan tanpa kriteria yang jelas. Akibatnya, data menjadi sangat banyak tetapi sulit digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Kesalahan lain adalah tidak menyesuaikan informan setelah fokus penelitian berubah. Apabila fokus mengalami perubahan yang cukup signifikan, kriteria informan perlu ditinjau kembali agar tetap konsisten.
Tips Praktis Menentukan Informan yang Tepat
Agar proses pemilihan lebih mudah, peneliti dapat membuat matriks sederhana sebelum melakukan pengumpulan data. Matriks tersebut menghubungkan fokus penelitian, kebutuhan informasi, kriteria informan, dan calon sumber data.
Misalnya:
| Fokus | Informasi yang dibutuhkan | Kriteria informan | Calon informan |
|---|---|---|---|
| Pengalaman penggunaan aplikasi | Pengalaman dan kendala | Pengguna aktif | Siswa |
| Proses penggunaan aplikasi | Cara penerapan | Pengelola pembelajaran | Guru |
| Dukungan penggunaan aplikasi | Kebijakan dan fasilitas | Pihak yang memahami kebijakan | Pengelola sekolah |
Matriks tersebut membantu peneliti melihat apakah setiap informan memang memiliki fungsi dalam penelitian. Selain itu, peneliti dapat lebih mudah menjelaskan alasan pemilihan informan ketika menyusun bab metode.
Sebelum turun ke lapangan, calon informan juga sebaiknya diperiksa kembali. Pastikan mereka memenuhi kriteria dan memiliki hubungan yang jelas dengan fokus penelitian.
Mengevaluasi Informan Selama Proses Penelitian
Pemilihan informan dapat dievaluasi selama proses pengumpulan dan analisis data. Peneliti mungkin menemukan bahwa beberapa informasi belum cukup menjelaskan fenomena.
Jika kondisi tersebut terjadi, peneliti dapat mempertimbangkan informan tambahan yang relevan. Penambahan tersebut sebaiknya didasarkan pada kebutuhan data, bukan sekadar keinginan memperbanyak jumlah sumber.
Evaluasi juga membantu peneliti mengetahui apakah data yang diperoleh mulai menunjukkan pola yang konsisten. Jika masih terdapat aspek penting yang belum terjelaskan, pencarian sumber informasi tambahan dapat dilakukan sesuai rancangan penelitian.
Dengan demikian, proses menentukan informan dapat berlangsung secara fleksibel, tetapi tetap berada dalam batas metodologis yang jelas.
Hubungan Informan dengan Analisis Data
Data yang diperoleh dari informan menjadi bahan penting dalam proses analisis. Namun, tidak semua informasi yang diberikan harus dimasukkan ke dalam hasil penelitian.
Peneliti perlu mengelompokkan data berdasarkan fokus atau tema yang relevan. Informasi yang tidak berhubungan langsung dengan tujuan penelitian dapat ditempatkan sebagai konteks atau tidak digunakan jika memang tidak diperlukan.
Sebagai contoh, informan mungkin menceritakan berbagai pengalaman selama menggunakan sebuah aplikasi. Peneliti kemudian memilih informasi yang berkaitan dengan pengalaman penggunaan, kendala, dan strategi penyelesaian masalah sesuai fokus penelitian.
Proses tersebut membantu menjaga hasil penelitian tetap terarah. Informan boleh memberikan informasi yang luas, tetapi peneliti tetap bertanggung jawab menentukan data mana yang relevan untuk dianalisis.
Baca Juga: Kelebihan Penelitian Deskriptif Kualitatif untuk Menggambarkan Fenomena secara Mendalam
Kesimpulan
Informan penelitian deskriptif kualitatif merupakan sumber informasi yang membantu peneliti memahami fenomena berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan keterlibatan pihak yang diteliti. Karena itu, menentukan informan yang tepat tidak cukup dilakukan berdasarkan kemudahan akses atau jumlah sumber data.
Pemilihan informan perlu dimulai dari fokus dan tujuan penelitian. Setelah mengetahui informasi yang dibutuhkan, peneliti dapat menentukan pihak yang memiliki pengalaman atau pengetahuan paling relevan. Selanjutnya, kriteria informan, teknik pemilihan, jumlah sumber data, serta kebutuhan informan utama dan pendukung dapat disesuaikan dengan kondisi penelitian.
Peneliti juga perlu memastikan bahwa informan memiliki hubungan yang jelas dengan fenomena yang dikaji. Data yang diperoleh kemudian harus dianalisis berdasarkan fokus penelitian agar pembahasan tidak berkembang terlalu luas.
Dengan pemilihan informan yang terencana, proses pengumpulan data dapat menjadi lebih efektif dan hasil penelitian lebih mudah diarahkan pada tujuan yang telah ditetapkan. Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam berbagai penelitian kualitatif, baik untuk skripsi, tesis, disertasi, maupun artikel ilmiah.
Bagi mahasiswa atau peneliti yang masih kesulitan menentukan kriteria informan, memilih teknik pemilihan sumber data, atau menyelaraskan informan dengan fokus penelitian, konsultasi akademik dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan arahan yang lebih terstruktur. Pendampingan dapat membantu meninjau rancangan penelitian sehingga pemilihan informan dan metode pengumpulan data lebih sesuai dengan kebutuhan kajian.










