Kreteria Dan Prinsip -Prinsip Pengembangan Bahan Ajar(4)

Daftar Isi

RuangJurnal.com – Kami melayani jasa Fast Track Jurnal Sinta untuk berbagai kebutuhan anda, seperti kenaikan pangkat, syarat kelulusan, dan masih banyak lagi. Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Kreteria Dan Prinsip -Prinsip Pengembangan Bahan Ajar(4)

2. Minyak Bumi

Sumber daya alam berikutnya yang dimiliki Indonesia adalah minyak bumi. Minyak bumi (petroleum) atau dikenal juga sebagai emas hitam merupakan cairan kental, cokelat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar yang terdapat pada lapisan teratas dari beberapa arca di kerak bumi. Sebagaimana hutan, tidak semua negara memiliki minyak bumi. Kita patut bersyukur, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki minyak bumi. Jika kamu erhatikan peta sebaran minyak bumi dunia, tampak hanya negara-negara tertentu yang memiliki cadangan minyak bumi.Kehadiran gambar juga tetap diperlukan untuk bahan ajar di kelas-kelas lanjutan. Seperti yang tampak pada contoh di atas, sajian materi tentang minyak bumi perlu ditunjang oleh gambar yang dapat memperjelas peserta didik Kelas IX tentang sebaran minyak bumi. Kehadiran gambar tersebut. sangat penting. Tanpa adanya gambar mereka akan sulit mengidentifikasi kandungan minyak yang dimaksud pada suatu area lapisan bumi. Dengan demikian, uraian yang samar-samar menjadi jelas dengan keberadaan gambar tersebut.

b. Relevan dengan Karakteristik Lingkungan

Kebermaknaan suatu bahan pelajaran juga dipengaruhi oleh kesesuaiannya dengan kondisi alam, sosial, dan budaya (konteks) dari peserta didik itu sendiri. Konteks atau lingkungan (culture), merupakan salah satu unsur yang perlu diperhatikan guru di dalam mengembangkan bahan ajar di isi pelajaran (content), kognisi, dan ragam komunikasinya (lisan, tertulis). Semakin dekat dengan kehidupan peserta didik, semakin bermaknalah suatu bahan ajar. Semakin mengawang-awang, semakin sulit untuk dimaknai pelajaran itu oleh peserta didik. Peserta didik yang dekat dengan kehidupan buruh dan pabrik-pabrik, akan lebih dikenalkan dengan contoh ataupun kasus-kasus, yang sesuai dengan konteks nyata kehidupan para

buruh. Demikian halnya dengan peserta didik yang berada di lingkungan pertanian, akan lebih baik apabila diberi persoalan-persoalan tentang pertanian dan daripada kehidupan industri ataupun tentang perkotaan. Dengan begitu peserta didik akan memperoleh kebermaknaan dari bahan yang telah dipelajarinya dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Apapun pelajarannya harus bisa mencari keterkaitan dengan kehidupan nyata peserta didik. Misalnya, peserta didik memerankan drama dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dengan dikaitkan dengan kebiasaan di lingkungannya sehari-hari. Dengan pengembangan materi tersebut, potensi peserta didik diharapkan berkembang khususnya dalam bahan keterampilan bersastra. Potensi diri peserta didik lainnya yang mungkin dikembangkan antara lain melalui kegiatan wawancara, observasi lapangan, studi literatur melalui kunjungan perpustakaan, atau penugasan melalui kegiatan penjelajahan informasi tertentu (browsing) melalui internet. Kecakapan-kecakapan tersebut selalu dikaitkan dengan lingkungan kehidupan peserta didik ataupun masa depan mereka melalui penekanan ambaknya (Apa manfaatnya bagiku?).

Untuk mendapatkan fakta-fakta itu dan merelevansikannya dengan bahan ajar, sekurang-kurangnya setiap guru harus melakukan riset kecil kecilan terhadap lingkungan alam, budaya, dan sosial di sekitar peserta didik. Dengan demikian, kasus-kasus yang dia angkat benar-benar “membumi” dan bisa menjawab tantangan dan beragam persoalan yang biasa dihadapi peserta didik sehari-hari.

Keberadaan aktivitas yang menguatkan penguasaan materi peserta didik sangat penting dalam suatu bahan ajar. Akan lebih baik apabila aktivitas belajar itu direlevansikan dengan kondisi lingkungan mereka masing-masing. Mereka akan lebih paham dan tumbuh pula kecakapan hidup berupa keterampilan maupun sikap tertentu, sesuai dengan yang diharapkan dalam indikator-indikator pembelajaran.

C. Sesuai Perkembangan Zaman

Keaktualan bahan adalah sisi lainnya yang perlu diperhatikan di dalam pengajaran, meskipun tingkatannya tidak sama dengan ukuran keaktualan pada penulisan berita dalam surat kabar ataupun majalah. Informasi, data, ilustrasi, dan sejenisnya diharapkan bersumber dari referensi yang digunakan harus selalu terbarukan, lebih-lebih ketika berkenaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2. Hak Memanfaatkan Sumber Energi

Setiap orang memiliki hak yang sama untuk menggunakan energi ogar dapat menunjang kegiatannya sehari-hari. Untuk hal-hal tertentu setiap orang pun berhak mengelola energi. Haki mengelola energi diperbolehkan selama tidak melanggar undang-undang dan merugikan. orang lain.

Jika hak dan kewajiban terhadap sumber energi telah dijalankan dengan baik, manfaat sumber energi pun dapat kita rasakan dengan baik pula.

                                                                        75

Kehadiran ilustrasi seperti tampak pada contoh di atas dianggap sudah sesuai dengan perkembangan zaman: seorang ibu memasak dengan menggunakan kompor gas. Meskipun demikian, pada kehidupan beberapa peserta didik masih menggunakan tungku atau kompor biasa. Namun, penggunaan data yang sudah terlalu lama, seperti pada cuplikan data di bawah ini menjadi tidak penting lagi karena keberadaannya hanya menjadi beban hafalan bagi peserta didik.

Tabel 3.4 Jenis Lapangan Pekerjaan Utama Tenaga Kerja di Indonesia Tahun 2013

NoLapangan Pekerjaan UtamaJumlah Tenaga KerjaPersentase
1Pertanian Perkebunan, Kehutanan, perburuan dan perikanan38,068,25434,36
2Pertambangan dan penggalian1,420,7671.28
3Industri14,883,81713.43
4Listruk, Gas dan Air250,9450.23
5Konstruksi6,276,7235.66
6Perdagangan, Rumah Makan , dan Jasa Akomodasi23,737,23621.42
7Transportasi, Pergudangan dan komnunikasi5,040,8494.55
8Lembaga Keuangan Real Estate, Usaha Persewaan , dan jasa Perusahaan2,912,4182.63
9Jasa Kemasyaraktan , Sosial dan Perorangan18,213,03216.44
10Lainya–0.00
 Total110,804,041100.00

Beberapa mata pelajaran terutama IPS dituntut untuk selalu

dihadapkan pada sejumlah informasi dan data terbaru. Misalnya, materi materi tentang pertumbuhan ekonomi dan kondisi suatu daerah ataupun negara. Oleh karena itu, kebiasaan guru sebagai seorang penyedia bahan ajar untuk membaca berbagai informasi terbaru sangatlah penting guna melayani perkembangan informasi yang terus berubah hampir setiap hari.

 Lebih spesifik, Pusat Perbukuan (2020) merumuskan panduan penulisan bahan ajar, yakni sebagai berikut

  1. Bernilai teoretis sekaligus praktis. Bahan ajar diharapkan menyajikan sejumlah konsep beserta contoh-contohnya pada setiap paparannya.
  2. Bersifat interaktif dan mendorong aktif belajar. Bahan ajar harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan mengajak peserta didik untuk aktif belajar.
  3. Bersifat adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman. Paparan materi beserta contoh-contohnya perlu mengacu pada perkembangan berbagai keadaan, seperti perkembangan pola pikir dunia anak, kewilayahan, budaya, kearifan lokal, maupun sains teknologi serta menguatkan NKRI.
  4. Menumbuhkan keliterasian. Bahan ajar diharapkan menumbuhkan kapasitas literasi peserta didik, mulai dari literasi dasar hingga digital sesuai dengan tuntutan materi.
  5. Menguatkan pendidikan karakter. Bahan ajar juga dapat memuat nilai nilai keagamaan, kemanusiaan, kebangsaan, demokrasi, dan keadilan sosial sebagaimana yang terkandung di dalam Pancasila secara jelas, melalui kegiatan pembelajaran sebagai tindak lanjut atas pemahaman mereka terhadap materi yang tengah disajikan.
  6. Mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang menjadi materi dan kegiatan pembelajaran sesuai kaidah Higher Order Thinking Skills (HOTS). Materi-materi dalam bahan ajar harus mendorong peserta didik untuk sampai pada kemampuan menganalisis, mengevaluasi, serta mencipta terkait dengan sejumlah kegiatan latihan yang tersaji di dalamnya.
  7. Mengembangkan kecakapan abad ke-21, yakni berupa pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreatif inovatif, komunikasi, dan kolabo rasi. Hal ini terutama pada bagian kegiatan pembelajarannya.
  8. Mencerminkan model pembelajaran berpusat pada peserta didik, yakni dengan menggunakan bahasa, sajian ilustrasi, serta grafis yang langsung diarahkan sesuai preferensi peserta didik.
  9. Membekali keterampilan terkait Revolusi Industri 4.0. Bahan ajar juga diharapkan dapat mengarahkan peserta didik mendalami keterampilan yang sejalan dengan Revolusi Industri 4.0 seperti eksplorasi internet, penguasaan dasar dunia digital, serta keterbukaan pada profesi baru di masa disrupsi yang selaras dengan materi pembelajaran.
  10. Mengembangkan kompetensi dan kreativitas guru dan peserta didik. Penyajian bahan ajar harus mendorong guru dan peserta didik untuk mendalami lebih lanjut materi dari sumber-sumber lain, juga mencari contoh-contoh sendiri dari dunia nyata yang relevan dengan keseharian guru dan peserta didik.
  1. Mengandung ilustrasi/media pendukung untuk menjelaskan materi sulit, untuk memudahkan peserta didik memahami konsep sulit seperti dengan menampilkan infografis, maupun penggunaan media lain seperti melalui tautan, sumber referensi, dan lain-lain.
  2. Memiliki orisinalitas dalam isi dan penyajian, yang memiliki aspek kebaruan yang orisinal, serta harus terbebas sepenuhnya dari aspek plagiasi dalam bentuk apa pun.
  3. Mencegah pelanggaran norma, terbebas dari berbagai pelanggaran norma publik seperti ujaran kebencian, kekerasan, diskriminasi SARA, pornografi, maupun bias gender dalam batas ukuran universal sesuai perjenjangan peserta didik.

Demikian panduan mengenai mengenai Kreteria Dan Prinsip -Prinsip Pengembangan Bahan Ajar(2) apabila membutuhkanen layanan pembuatan jurnal sinta untuk menghemat waktu anda. Dapat menghubungi admin ruang jurnal


Kosasih, E. 2021. Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Kontak Sekarang

Daftar Jurnal

Latest Post

This will close in 20 seconds