Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pendekatan Kontekstual (1)

Daftar Isi

RuangJurnal.com – Kami melayani jasa Konversi Jurnal Sinta untuk berbagai kebutuhan anda, seperti kenaikan pangkat, syarat kelulusan, dan masih banyak lagi. Namun, sebelum itu, anda bisa menyimak bahasan di bawah ini mengenai Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pendekatan Kontekstual (1)

A.KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

            Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching Learning, CTL) merupakan pendekatan yang dapat memberikan dukungan dan penguatan pada pemahaman peserta didik dalam menyerap sejumlah bahan pembelajaran. Dengan pendekatan itu, peserta didik diharapkan dapat memperoleh makna dari apa yang dipelajarinya, dan mampu menghubungkan dengan kenyataan hidup sehari-hari. Pembelajaran kontekstual merupakan cara belajar yang menghubungkan sikap, pengetahuan, serta keterampilan yang sesuai dengan keadaan dan keperluan yang ada dalam realitas kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, segala bahan yang mereka peroleh dari suatu bahan ajar akan lebih bermakna dan dapat dirasakan manfaatnya bagi para peserta didik.

CTL merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dikem bangkan oleh The Washington State Consortium for Contextual Teaching and Learning di Amerika Serikat. (http:/www.Contextual.org/19/10/2001). Sebagaimana pendekatan-pendekatan lainnya, CTL dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada.

B. STRATEGI PENERAPAN DAN KARAKTERISTIK CTL

Terdapat lima strategi untuk menerapkan pembelajaran kontekstual, yakni sebagai berikut.

Relating, belajar dihubungkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata. Bahan-bahan ajar selalu dikorelasikan dengan kebiasaan dan keperluan hidup para peserta didik sehari-hari.

Experiencing, kegiatan belajar diarahkan pada kepentingan penggalian, penemuan, dan penciptaan. Peserta didik yang mengalami keaktifan dalam mempelajari bahan-bahan ajar itu. Adapun peranan guru sebagai fasilitator dan organisator di dalam pembelajaran.

Applying, belajar dengan menyelaraskan sikap, pengetahuan, dan dengan pemanfaatannya dalam keperluan sehari-hari. Setiap mengawali bahan ajar, diharapkan ada kejelasan AMBAK (Apa manfaatnya bagiku?) sehingga peserta didik lebih merasa berkepentingan terhadap bahan-bahan itu.

Cooperating, belajar dalam konteks interaksi kelompok. Asumsinya bahwa dalam konteks kehidupan sehari-hari pun peserta didik akan selalu dihadapkan pada kepentingan, persoalan, dan kehidupan bersama dengan masyarakat dan juga lingkungannya.

Transfering, belajar dengan menggunakan pengetahuan dan kete rampilan dalam konteks baru/konteks lain. Diharapkan bahan ajar selalu dihubungkan dengan bahan-bahan lain yang saling berkaitan dan tidak berdiri sendiri sehingga kompetensi peserta didik lebih luas dalam berbagai kepentingan kehidupan.

Strategi CTL:

  1. Relating
  2. Experiencing
  3. Applying
  4. Cooperating
  5. Transfering

Menurut Zahorik (Depdiknas, 2002: 7) ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktik pembelajaran kontekstual.

  1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge).Untuk itu, bahan ajar diharapkan diawali dengan pemanfaatan dari pengalaman setiap peserta didik yang dianggap relevan. Misalnya, bahan ajar yang ditentukan KD tentang berpidato. Bahan itu perlu dikaitkan dengan pengalaman ataupun pemahaman peserta didik yang sering ia saksikan ataupun mereka simak. Demikian pula dengan materi tentang lingkungan hidup pada Mata Pelajaran IPA, dapat dikaitkan dengan pengalaman peserta didik tentang keberadaan kebun, sawah, pegunungan, sungai, dan kondisi-kondisi lingkungan di tempat tinggalnya.

Sajian materi tentang permainan daerah dalam bahan ajar itu dikaitkan pula dengan pengalaman atau kebiasaan peserta didik sehari-hari. Akan tetapi, latihan tersebut perlu dieksplorasi. Pengalaman peserta didik dalam permainan itu dapat dikorelasikan dan dikembangkan sebagai materi, di samping materi pokok yang dituntut oleh kurikulum.

Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat dapat disajikan dalam ajar itu dalam rangka mengeksplorasi pengalaman mereka itu.

Permainan apa yang biasa kamu lakukan?

 Kapan dan di mana saja kamu melakukannya?

Melakukannya dengan siapa?

Mengapa permainan itu kamu lakukan?

Bagaimana cara melakukan permainan itu?

2. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan terlebih dulu; kemudian memper hatikan detailnya. Strategi penyajian bahan seperti ini disebut pula dengan pendekatan pembelajaran deduktif. Bahan-bahan yang ber sifat teoretis disampaikan terlebih dahulu, yang kemudian diikuti dengan penyajian fakta-fakta sebagai penjelasannya. Strategi penyajian bahan tersebut lebih tepat diterapkan pada bahan-bahan baru untuk para peserta didik. Untuk bahan tentang lambang negara pada Mata Pelajaran PKn misalnya, sajian bahannya terlebih dahulu diawali dengan pengertian, fungsi, bagian-bagian, dan sejarah lambang negara, yang kemudian diikuti dengan wujud atau faktanya. Demikian pula materi tentang senam dalam Mata Pelajaran Penjaskes, diawali dengan konsep-konsep umum tentang senam yang kemudian diikuti dengan penjelasan mengenai praktik pelaksanaannya.

3. Pemahaman pengetahuan dan keterampilan dengan cara berikut:

  • menyusun konsep sementara (hipotesis);
  • melakukan sharing dengan orang lain agar mendapat tanggapan (validasi);
  • merevisi dan mengembangkan konsep.

Pengembangannya pada bahan ajar dapat dimulai dengan mengajukan sejumlah pertanyaan, yang kemudian dijawab oleh peserta didik berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang telah mereka miliki. Jawaban-jawaban mereka itu kemudian dikorelasikan dengan pendapat-pendapat para ahli atau dengan mereka melalui proses pengamatan pada teksnya secara langsung.

Misalnya, dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia diajukan pertanyaan “Samakah struktur teks dongeng dengan cerpen?” Untuk pertanyaan tersebut, di dalam bahan ajarnya dapat disampaikan jawaban sementara dengan dituliskan bahwa “Secara umum kedua teks itu memiliki kesamaan struktur”. Pernyataan tersebut kemudian diuji melalui pembuktian-pembuktian, yakni dengan membandingkan langsung kedua jenis teks itu. Peserta didik diarahkan untuk mengamati kedua teks itu, dan disimpulkan pada bagian akhir bahan tentang perbedaan perbedaan secara nyata dari pasangan teks tersebut.

4. Memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya. Diharapkan selalu ada kegiatan apersepsi atau mengonstruksi pengetahuan dan pengalaman, yang telah dimiliki para peserta didik sebelum tersajinya bahan pokok. Dalam sajian bahan ajar, bagian apersepsi tersebut diisi dengan ulasan bahan yang telah tersaji pada bab sebelumnya, kemudian dikaitkan dengan paparan bahan pada bab tersebut. Dapat pula berupa pengaitan dengan pengetahuan, pengalaman, ataupun keterampilan yang telah dimiliki peserta didik sebelumnya. Tahapan sangat penting guna menjadikan peserta didik lebih tertarik dan meminati papara berikutnya, di samping untuk membentuk kebermaknaan bahan yang akan dipelajari peserta didik.

5. Melakukan refleksi terhadap bahan pembelajaran yang telah dipaparkan sebelumnya. Hal ini terkait dengan bahan yang belum atau yang sudah mereka kuasai. Refleksi juga dilakukan dengan pendalaman terhadap bahan-bahan yang mungkin mereka manfaatkan, atau mereka kembangkan di dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Dalam Priyatni (2002: 2) dikemukakan beberapa karakteristik pembelajaran yang menggunakan strategi CTL.

  1. Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks yang autentik, artinya pembelajaran diarahkan agar peserta didik memiliki pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan keperluan hidup mereka sehari hari. Oleh karena itu, bahan-bahan yang tersaji hendaknya selalu dikaitkan dengan pengalaman, kebiasaan, dan kepentingan mereka sehari-hari.
  2. Pembelajaran memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna. Tugas-tugas yang dimaksud di dalam bahan ajar tidak sekadar menguji pemahaman peserta didik secara teoretis. Akan tetapi, tidak kalah pentingnya lagi adalah aplikasi teori ke dalam bentuk-bentuk tugas yang ada korelasinya terhadap pengalaman, kebiasaan, dan kepentingan para peserta didik.
  3. Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik. Baik bahan yang berkaitan dengan pengetahuan maupun keterampilan selalu dikaitkan dengan kegiatan kegiatan lapangan.
  4. Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi (learning in group). Dengan demikian, diharapkan akan berkembang sikap-sikap saling menghargai, bekerja sama, dan sikap sikap lainnya yang dibutuhkan di dalam kehidupan bermasyarakat.
  5. Kebersamaan, kerja sama, dan saling memahami satu sama lain secara mendalam merupakan aspek penting untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan.
  6. Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama. Dengan demikian, bahan-bahan yang tersaji termasuk kegiatan-kegiatannya harus mengarah pada peserta didik sebagai pusat pembelajaran. Mereka sebagai penentu arah pembelajaran, pencarian dan pengumpulan data, penyimpulan, sampai pada tahap pelaporannya.
  7. Pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan.
  8. Penilaian hasil pembelajaran menggunakan penilaian autentik. Didalam pendekatan Kurikulum 2013, penilaian autentik sangatlah disarankan dengan aspek-aspeknya mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Pendekatan CTL relevan dengan pengembangan bahan ajar apa pun, yakni dengan karakteristiknya yang seperti berikut.

  1. Peserta didik secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran, mulai yang bersifat reseptif maupun produktif. Misalnya, peserta didik tidak saja dapat memahami materi dalam bahan ajar, namun mereka pun dituntut untuk bisa menyampaikan kembali penjelasan itu kepada temannya; dapat mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik tidak sekadar bisa membacanya, namun ia pun harus bisa menyampaikan bacaan itu dan bahkan mengalami atau membuatnya sendiri. Keaktifan peserta didik dalam berbagai peristiwa belajar dinyatakan dalam bahan ajar yang tersusun secara sistematis, mulai dari kegiatan mengidentifikasi, menganalisis, menyimpulkan, merancang, serta mengkreasikan.
  2. Peserta didik belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, dan bisa saling mengoreksi. Hal ini sesuai dengan prinsip pelajaran CTL yang mengutamakan psikomotor di samping kemampuan dalam berkognisi dan berafeksi. Sebelum mereka mengembangkan kemampuan individual, peserta didik mendapatkan sejumlah bahan dan kegiatan yang melibatkan kerja sama kelompok. Hal ini kemampuan peserta didik akan berkembang dengan baik apabila mereka sering terlibat dalam komuniasi sosial. Potensi-potensi mereka dalam hal raga, olah rasa, olah pikir, dan olah karsa akan berkembang apabila mereka terlibat langsung dalam kerja sama dengan temannya ataupun dengan lingkungan sekitarnya.
  3. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata. Untuk memperoleh pengalaman yang sifatnya riil, para peserta didik tidak selalu diperkenalkan pada tataran teori-teori. Akan tetapi, mereka lebih dulu diperkenalkan dan terlibat langsung dalam beragam peristiwa nyata.
  4. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat dan beragam konteks. Pembelajaran tidak harus selalu dilaksanakan di kelas, namun dapat pula terjadi di taman, di pasar, di stasiun kereta api, dan lain-lain.
  5. Para peserta didik menggunakan kemampuan kritisnya dan terlibat penuh dalam proses pembelajaran. Mereka mengetahui sesuatu yang benar dan yang salah atas dasar kemampuan mengidentifikasi dan menganalisisnya, serta bukan menerima begitu saja fatwa atau teori dari buku dan guru. Misalnya, mereka mengetahui struktur pencernaan hewan mamalia dari teori. Mereka mengetahuinya atas dasar hasil mengidentifikasi ataupun dengan mengobservasinya langsung, baik secara berkelompok maupun individual.
  6. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara, yaitu dari proses kerja, hasil karya, penampilan, tes lisan ataupun tulisan. Dengan cara demikian, kemampuan peserta didik yang sesungguhnya dapat diketahui secara lebih menyeluruh, yakni tidak hanya aspek pengetahuan melainkan juga aspek keterampilan dan sikap.
  7. Penghargaan lebih diutamakan daripada hukuman. Para peserta didik adalah manusia yang sedang belajar. Kesalahan merupakan sesuatu yang biasa dan lazim dilakukan bagi yang sedang belajar. Hal yang luar biasa adalah ketika mereka melakukan sebuah prestasi dan pada itulah mereka harus mendapatkan penghargaan.
  8. Motivasi belajar tumbuh dari diri sendiri dan bukan dari motivasi luar. Mereka mau belajar bahasa karena menyadari bahwa bahasa itu penting. Oleh karena itu, AMBAK (Apa manfaat bahan ini bagiku?) harus selalu tertanam setiap kali mereka akan memulai pelajaran.

Demikian panduan mengenai mengenai Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pendekatan Kontekstual (1), apabila membutuhkan layanan pembuatan jurnal sinta untuk menghemat waktu anda. Dapat menghubungi admin ruang jurnal


Kosasih, E. 2021. Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Kontak Sekarang

Daftar Jurnal

Latest Post

This will close in 20 seconds