Perkembangan publikasi ilmiah yang semakin pesat membuat peneliti dihadapkan pada ribuan artikel yang membahas topik serupa. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri ketika seseorang ingin memperoleh gambaran menyeluruh mengenai suatu bidang penelitian. Membaca satu per satu artikel tentu membutuhkan waktu yang tidak sedikit, sehingga diperlukan metode yang mampu memetakan bukti ilmiah secara sistematis tanpa harus langsung melakukan sintesis hasil penelitian secara mendalam.
Salah satu metode yang banyak digunakan untuk tujuan tersebut adalah Scoping Review. Metode ini semakin populer dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari kesehatan, pendidikan, psikologi, ekonomi, hingga ilmu sosial. Berbeda dengan jenis tinjauan pustaka tradisional, Scoping Review dirancang untuk mengeksplorasi cakupan penelitian yang telah tersedia, mengidentifikasi kesenjangan penelitian (research gap), serta memberikan gambaran mengenai arah perkembangan suatu topik.
Dalam beberapa tahun terakhir, Scoping Review juga semakin sering dijadikan metode penelitian pada skripsi, tesis, disertasi, maupun artikel ilmiah. Banyak jurnal bereputasi menerima artikel berbasis Scoping Review karena mampu memberikan kontribusi penting dalam memetakan literatur sebelum penelitian lanjutan dilakukan.
Artikel ini membahas secara lengkap mengenai Scoping Review, mulai dari pengertian, karakteristik, tujuan, tahapan, metode penyusunan, perbedaannya dengan Systematic Review, contoh penerapan, hingga berbagai tips agar penyusunannya menghasilkan artikel ilmiah yang berkualitas.

Apa itu Scoping Review?
Scoping Review merupakan salah satu metode evidence synthesis yang bertujuan untuk memetakan berbagai penelitian yang telah dipublikasikan mengenai suatu topik tertentu. Fokus utamanya bukan membandingkan efektivitas hasil penelitian, melainkan memberikan gambaran luas mengenai jenis penelitian yang tersedia, karakteristiknya, metode yang digunakan, serta area yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Melalui Scoping Review, peneliti dapat mengetahui sejauh mana suatu topik telah diteliti, bagaimana perkembangan penelitian dari waktu ke waktu, siapa kelompok sasaran yang paling banyak diteliti, hingga metode penelitian apa yang paling sering digunakan.
Karena sifatnya yang eksploratif, Scoping Review sangat sesuai digunakan ketika suatu bidang penelitian masih berkembang atau memiliki cakupan yang sangat luas sehingga belum memungkinkan dilakukan Systematic Review.
Pengertian Scoping Review
Scoping Review adalah metode kajian literatur yang dilakukan secara sistematis untuk mengidentifikasi, memetakan, dan mendeskripsikan bukti ilmiah yang tersedia mengenai suatu topik penelitian tanpa melakukan sintesis kuantitatif seperti meta-analisis.
Tujuan utama Scoping Review bukan menentukan apakah suatu intervensi efektif, melainkan memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi penelitian yang telah ada. Oleh sebab itu, hasil Scoping Review sering digunakan sebagai dasar penyusunan agenda penelitian berikutnya maupun sebagai landasan sebelum melakukan Systematic Review.
Metode ini banyak mengacu pada kerangka kerja yang dikembangkan oleh Arksey dan O’Malley (2005), kemudian disempurnakan oleh Levac dan kolega, serta diperkuat melalui pedoman pelaporan PRISMA-ScR (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses Extension for Scoping Reviews).
Baca Juga: Maximum Variation Sampling: Pengertian, Tujuan, Cara Penerapan, dan Contohnya
Tujuan Scoping Review
Scoping Review memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan metode kajian literatur lainnya. Peneliti menggunakan metode ini ketika ingin memperoleh gambaran umum mengenai suatu bidang penelitian tanpa harus mengevaluasi efektivitas setiap hasil penelitian secara mendalam.
Beberapa tujuan utama Scoping Review meliputi:
- Memetakan penelitian yang telah dipublikasikan pada suatu topik.
- Mengidentifikasi konsep utama yang digunakan dalam penelitian.
- Mengetahui metode penelitian yang paling banyak digunakan.
- Mengidentifikasi kesenjangan penelitian (research gap).
- Menentukan peluang penelitian lanjutan.
- Menjadi dasar sebelum melakukan Systematic Review.
- Menyajikan ringkasan literatur secara komprehensif.
Dengan tujuan tersebut, Scoping Review menjadi metode yang sangat bermanfaat pada tahap awal eksplorasi suatu topik penelitian.
Karakteristik Scoping Review
Scoping Review memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dari metode kajian literatur lainnya. Memahami karakteristik ini akan membantu peneliti memilih metode yang paling sesuai dengan tujuan penelitian.
Karakteristik utama Scoping Review antara lain:
- Menggunakan prosedur pencarian literatur secara sistematis.
- Mencakup topik penelitian yang relatif luas.
- Tidak selalu melakukan penilaian kualitas artikel secara mendalam.
- Berfokus pada pemetaan bukti ilmiah.
- Dapat mencakup berbagai desain penelitian, baik kuantitatif, kualitatif, maupun mixed methods.
- Bertujuan mengidentifikasi kesenjangan penelitian.
- Menghasilkan ringkasan naratif dan tabel pemetaan literatur.
Karakteristik tersebut menjadikan Scoping Review sangat fleksibel dibandingkan beberapa metode tinjauan pustaka lainnya.
Kapan Scoping Review digunakan?
Tidak semua penelitian memerlukan Scoping Review. Metode ini lebih tepat digunakan pada kondisi tertentu yang membutuhkan pemetaan literatur secara luas.
Beberapa kondisi yang sesuai antara lain:
- Topik penelitian masih baru dan belum banyak dikaji.
- Literatur tersedia dalam berbagai desain penelitian.
- Peneliti ingin mengetahui perkembangan penelitian suatu bidang.
- Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi research gap.
- Peneliti ingin menyusun agenda penelitian berikutnya.
- Belum tersedia Systematic Review mengenai topik tersebut.
Dalam kondisi tersebut, Scoping Review memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan metode kajian literatur konvensional.
Tahapan penyusunan Scoping Review
Penyusunan Scoping Review dilakukan melalui beberapa tahapan yang sistematis agar hasil kajian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Secara umum, proses penyusunannya meliputi langkah-langkah berikut:
- Menentukan pertanyaan penelitian.
- Menyusun protokol penelitian.
- Menentukan basis data ilmiah yang akan digunakan.
- Menyusun strategi pencarian artikel menggunakan kata kunci.
- Melakukan proses pencarian literatur.
- Menyeleksi artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.
- Melakukan ekstraksi data.
- Memetakan hasil penelitian.
- Menyusun sintesis naratif.
- Menyusun laporan sesuai pedoman PRISMA-ScR.
Setiap tahapan perlu didokumentasikan secara rinci agar penelitian mudah direplikasi oleh peneliti lain.
Framework yang umum digunakan
Dalam praktiknya, sebagian besar Scoping Review menggunakan framework yang dikembangkan oleh Arksey dan O’Malley yang kemudian disempurnakan oleh Levac.
Framework tersebut terdiri atas lima tahap utama, yaitu:
| Tahapan | Penjelasan |
|---|---|
| Menentukan pertanyaan penelitian | Menyusun fokus kajian secara jelas |
| Mengidentifikasi studi | Menentukan database dan strategi pencarian |
| Seleksi artikel | Menyaring artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi |
| Charting data | Mengekstraksi informasi penting dari setiap artikel |
| Menyusun dan melaporkan hasil | Menyajikan pemetaan literatur secara naratif dan tabel |
Saat ini, banyak jurnal juga menganjurkan penggunaan pedoman PRISMA-ScR agar pelaporan Scoping Review menjadi lebih transparan.
Perbedaan Scoping Review dan Systematic Review
Banyak peneliti pemula menganggap Scoping Review sama dengan Systematic Review. Padahal, kedua metode tersebut memiliki tujuan yang berbeda.
| Aspek | Scoping Review | Systematic Review |
|---|---|---|
| Tujuan | Memetakan literatur | Menjawab pertanyaan penelitian secara spesifik |
| Topik | Luas | Spesifik |
| Penilaian kualitas | Tidak selalu dilakukan | Wajib dilakukan |
| Meta-analisis | Umumnya tidak | Dapat dilakukan |
| Hasil | Pemetaan penelitian | Sintesis bukti ilmiah |
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Scoping Review lebih berorientasi pada eksplorasi literatur, sedangkan Systematic Review lebih berfokus pada sintesis bukti ilmiah.
Contoh sederhana Scoping Review
Misalkan seorang peneliti ingin mengetahui perkembangan penggunaan Artificial Intelligence dalam pendidikan tinggi.
Pertanyaan penelitiannya adalah:
“Bagaimana perkembangan penelitian mengenai penggunaan Artificial Intelligence dalam pembelajaran di perguruan tinggi selama sepuluh tahun terakhir?”
Peneliti kemudian mencari artikel pada Scopus, Web of Science, PubMed, dan Google Scholar menggunakan kata kunci yang relevan. Setelah proses seleksi, diperoleh 150 artikel yang kemudian dipetakan berdasarkan:
- Tahun publikasi.
- Negara asal penelitian.
- Metode penelitian.
- Bidang ilmu.
- Jenis teknologi AI yang digunakan.
- Temuan utama setiap penelitian.
Hasil akhirnya bukan berupa kesimpulan efektivitas AI, melainkan peta perkembangan penelitian beserta area yang masih memerlukan penelitian lanjutan.
Metode pencarian literatur dalam Scoping Review
Keberhasilan Scoping Review sangat bergantung pada strategi pencarian literatur yang sistematis. Semakin baik proses pencarian dilakukan, semakin komprehensif pula bukti ilmiah yang berhasil dikumpulkan. Oleh karena itu, peneliti perlu menyusun strategi pencarian sebelum mulai mengakses berbagai basis data ilmiah.
Pencarian artikel biasanya dilakukan pada beberapa database agar cakupan literatur lebih luas. Selain itu, penggunaan kata kunci yang tepat serta operator Boolean seperti AND, OR, dan NOT dapat membantu memperoleh hasil pencarian yang lebih relevan.
Beberapa database yang umum digunakan meliputi:
| Database | Kelebihan |
|---|---|
| Scopus | Cakupan jurnal internasional sangat luas |
| Web of Science | Banyak digunakan dalam penelitian bereputasi |
| PubMed | Sangat lengkap untuk bidang kesehatan |
| ScienceDirect | Menyediakan berbagai artikel ilmiah multidisiplin |
| SpringerLink | Banyak artikel akses terbuka dan buku ilmiah |
| Wiley Online Library | Cocok untuk berbagai bidang ilmu |
| Google Scholar | Memudahkan pencarian awal dan literatur tambahan |
Dalam praktiknya, peneliti disarankan menggunakan lebih dari satu database agar kemungkinan kehilangan artikel penting dapat diminimalkan.

Menentukan kriteria inklusi dan eksklusi
Setelah memperoleh hasil pencarian, langkah berikutnya adalah menyusun kriteria inklusi dan eksklusi. Tahap ini bertujuan memastikan bahwa artikel yang dianalisis benar-benar sesuai dengan fokus penelitian.
Kriteria inklusi biasanya menjelaskan karakteristik artikel yang layak dimasukkan, sedangkan kriteria eksklusi menjelaskan alasan suatu artikel dikeluarkan dari proses analisis.
Contohnya dapat dilihat pada tabel berikut.
| Kriteria Inklusi | Kriteria Eksklusi |
|---|---|
| Artikel penelitian asli | Editorial |
| Full text tersedia | Abstrak saja |
| Bahasa Indonesia atau Inggris | Bahasa lain tanpa terjemahan |
| Terbit dalam rentang tahun tertentu | Terbit di luar periode penelitian |
| Sesuai topik penelitian | Tidak relevan dengan pertanyaan penelitian |
Penentuan kriteria sejak awal akan mengurangi bias seleksi serta meningkatkan transparansi penelitian.
Proses ekstraksi data
Setelah artikel terpilih, peneliti melakukan ekstraksi data atau data charting. Pada tahap ini, berbagai informasi penting dari setiap artikel dicatat dalam sebuah tabel sehingga memudahkan proses analisis.
Data yang diekstraksi dapat disesuaikan dengan tujuan penelitian. Namun, umumnya meliputi informasi berikut.
- Nama penulis.
- Tahun publikasi.
- Negara penelitian.
- Tujuan penelitian.
- Metode penelitian.
- Karakteristik sampel.
- Variabel yang dikaji.
- Temuan utama.
- Kesimpulan penelitian.
Penyusunan tabel ekstraksi data akan mempermudah peneliti dalam mengidentifikasi pola, tren, maupun kesenjangan penelitian.
Cara menyajikan hasil Scoping Review
Hasil Scoping Review tidak hanya disampaikan dalam bentuk narasi. Peneliti juga dianjurkan menggunakan tabel, diagram, maupun bagan agar informasi lebih mudah dipahami oleh pembaca.
Beberapa bentuk penyajian yang sering digunakan meliputi:
- Diagram alur seleksi artikel menggunakan PRISMA-ScR.
- Tabel karakteristik artikel.
- Tabel metode penelitian.
- Grafik jumlah publikasi berdasarkan tahun.
- Grafik distribusi negara penelitian.
- Peta konsep topik penelitian.
- Ringkasan naratif mengenai temuan utama.
Kombinasi penyajian visual dan naratif akan meningkatkan kualitas artikel sekaligus memudahkan pembaca memahami hasil kajian.
Kelebihan Scoping Review
Scoping Review memiliki banyak keunggulan sehingga semakin banyak digunakan dalam penelitian akademik.
Beberapa kelebihannya antara lain:
- Memberikan gambaran menyeluruh mengenai suatu topik.
- Mampu mengidentifikasi research gap.
- Cocok untuk bidang penelitian yang masih berkembang.
- Dapat menggabungkan berbagai desain penelitian.
- Menjadi dasar penyusunan Systematic Review.
- Membantu menentukan arah penelitian berikutnya.
- Proses sintesis lebih fleksibel dibandingkan Systematic Review.
Dengan berbagai kelebihan tersebut, Scoping Review menjadi metode yang sangat bermanfaat terutama pada tahap eksplorasi suatu bidang ilmu.
Kekurangan Scoping Review
Meskipun memiliki banyak keunggulan, metode ini juga memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipahami sejak awal.
Beberapa kekurangan Scoping Review meliputi:
- Tidak berfokus pada efektivitas suatu intervensi.
- Penilaian kualitas artikel tidak selalu dilakukan.
- Tidak menghasilkan estimasi efek seperti meta-analisis.
- Jumlah artikel yang dianalisis sering kali sangat banyak.
- Membutuhkan waktu cukup lama pada proses seleksi literatur.
- Sangat bergantung pada strategi pencarian artikel.
Memahami keterbatasan tersebut membantu peneliti menentukan apakah Scoping Review merupakan metode yang paling sesuai dengan tujuan penelitiannya.
Kesalahan yang sering dilakukan saat menyusun Scoping Review
Masih banyak peneliti yang melakukan kesalahan dalam penyusunan Scoping Review sehingga kualitas hasil kajian menjadi kurang optimal. Kesalahan tersebut umumnya terjadi karena kurang memahami karakteristik metode ini.
Beberapa kesalahan yang perlu dihindari antara lain:
- Pertanyaan penelitian terlalu luas atau terlalu sempit.
- Kata kunci pencarian kurang lengkap.
- Hanya menggunakan satu database.
- Tidak mendokumentasikan proses seleksi artikel.
- Tidak menggunakan pedoman PRISMA-ScR.
- Tidak menyusun tabel ekstraksi data.
- Menyimpulkan efektivitas intervensi tanpa analisis yang memadai.
- Mengabaikan pembahasan mengenai research gap.
Dengan menghindari kesalahan tersebut, kualitas artikel akan meningkat dan peluang diterima di jurnal ilmiah menjadi lebih besar.
Tips menyusun Scoping Review yang berkualitas
Scoping Review yang baik tidak hanya bergantung pada banyaknya artikel yang dianalisis, tetapi juga pada kualitas proses penyusunannya. Oleh sebab itu, peneliti perlu memperhatikan beberapa hal penting sejak tahap perencanaan.
Beberapa tips yang dapat diterapkan adalah:
- Tentukan pertanyaan penelitian yang jelas dan terfokus.
- Gunakan framework PCC (Population, Concept, Context) apabila sesuai.
- Susun protokol penelitian sebelum pencarian literatur.
- Gunakan beberapa database bereputasi.
- Dokumentasikan seluruh proses seleksi artikel.
- Sajikan diagram PRISMA-ScR.
- Gunakan tabel ekstraksi data yang sistematis.
- Jelaskan research gap secara eksplisit.
- Sajikan hasil menggunakan kombinasi tabel, grafik, dan narasi.
- Lakukan pengecekan kembali sebelum artikel dikirim ke jurnal.
Penerapan langkah-langkah tersebut akan meningkatkan kredibilitas hasil kajian dan memudahkan proses penelaahan oleh reviewer.
Rekomendasi penggunaan PRISMA-ScR
Saat ini, banyak jurnal internasional maupun nasional bereputasi menganjurkan penggunaan pedoman PRISMA Extension for Scoping Reviews (PRISMA-ScR). Pedoman ini membantu penulis menyusun laporan secara lebih transparan dan lengkap.
PRISMA-ScR mencakup berbagai aspek penting, seperti penyusunan judul, abstrak, latar belakang, metode pencarian literatur, proses seleksi artikel, ekstraksi data, penyajian hasil, pembahasan, hingga kesimpulan. Dengan mengikuti pedoman tersebut, laporan Scoping Review menjadi lebih mudah dipahami dan direplikasi oleh peneliti lain.
Selain meningkatkan kualitas pelaporan, penggunaan PRISMA-ScR juga dapat memperbesar peluang artikel diterima pada jurnal ilmiah karena format penyajiannya telah mengikuti standar internasional.
Baca Juga: Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian dan Contohnya
Kesimpulan
Scoping Review merupakan metode kajian literatur yang bertujuan memetakan bukti ilmiah mengenai suatu topik secara sistematis. Berbeda dengan Systematic Review yang berfokus pada sintesis bukti untuk menjawab pertanyaan penelitian yang spesifik, Scoping Review lebih menekankan pada identifikasi konsep, karakteristik penelitian, tren publikasi, serta kesenjangan penelitian yang masih terbuka.
Melalui tahapan yang terstruktur, mulai dari penyusunan pertanyaan penelitian, pencarian literatur, seleksi artikel, ekstraksi data, hingga penyajian hasil sesuai pedoman PRISMA-ScR, Scoping Review mampu menghasilkan gambaran komprehensif mengenai perkembangan suatu bidang ilmu. Oleh karena itu, metode ini sangat bermanfaat sebagai dasar dalam merancang penelitian lanjutan maupun menyusun Systematic Review.
Bagi mahasiswa, dosen, maupun peneliti, pemahaman yang baik mengenai Scoping Review akan membantu menghasilkan kajian literatur yang lebih sistematis, transparan, dan memiliki kontribusi ilmiah yang lebih kuat.
Butuh Bantuan Menyusun Scoping Review?
Jika Anda sedang menyusun skripsi, tesis, disertasi, atau artikel ilmiah menggunakan metode Scoping Review, Anda dapat memanfaatkan layanan konsultasi akademik dari ruangjurnal.com. Tim yang berpengalaman siap membantu mulai dari penyusunan protokol penelitian, strategi pencarian literatur, proses screening artikel, penyusunan diagram PRISMA-ScR, ekstraksi data, hingga pendampingan penulisan artikel ilmiah sesuai standar jurnal nasional maupun internasional.
Bagi Anda yang sedang mempersiapkan artikel ilmiah bidang teknik, membutuhkan bantuan analisis data, proofreading akademik, pengecekan similarity, penerjemahan artikel, pemilihan jurnal target, hingga pendampingan submit jurnal Scopus, layanan konsultasi akademik profesional dapat membantu meningkatkan kualitas manuskrip sekaligus memperbesar peluang publikasi pada jurnal bereputasi internasional.










